Suster Katolik Timor-Leste Lulus S2 Kebidanan di Kampus Islam Yogyakarta
Social Media
Communication
Bookmarking
Developer
Entertainment
Academic
Finance
Lifestyle
ph@geosiar.co.id
YOGYAKARTA,GEOSIAR.CO.ID -–– – Sosok Suster Dulce Maria Guterres, FDCC, tampil berbeda di antara ratusan wisudawan Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta. Mengenakan busana dan penutup kepala khas biarawati, Suster Dulce ternyata merupakan biarawati Katolik asal Timor-Leste yang baru saja menyelesaikan pendidikan Magister Kebidanan.
Suster Dulce resmi meraih gelar Magister Kebidanan dari Fakultas Ilmu Kesehatan UNISA Yogyakarta dalam wisuda periode ke-27 yang digelar di Convention Hall Masjid Walidah Dahlan.
Kisah Suster Dulce menjadi perhatian karena ia menempuh pendidikan di perguruan tinggi yang berbasis nilai-nilai Islam. Namun, perbedaan keyakinan tersebut tidak menjadi penghalang selama menjalani proses pendidikan.
Justru, Suster Dulce mengaku sempat merasa cemas ketika pertama kali datang ke UNISA Yogyakarta. Ia khawatir dengan lingkungan kampus serta faktor usia dan keterbatasan yang dimilikinya.
Kekhawatiran itu perlahan hilang setelah ia merasakan sambutan hangat dari lingkungan kampus.
“Namun, kekhawatiran tersebut perlahan pudar oleh ketulusan. Kehangatan, kelembutan, dan keterbukaan dari seluruh civitas academika menyambut kehadiran saya. Unisa bukan sekadar institusi pendidikan tinggi, melainkan sebuah oase dan rumah rohani yang menghadirkan rasa aman serta kedamaian bagi jiwa,” ujar Suster Dulce dalam pidatonya mewakili para wisudawan.
Suster Dulce datang ke Indonesia atas utusan Instituto de Ciência de Saúde (ICS) Dili dengan dukungan Yayasan Graça de Deus.
Selama tinggal dan menjalani pendidikan, ia juga merasakan pengalaman persaudaraan di lingkungan asrama kampus. Sebagai seorang biarawati Katolik, ia mengaku diterima dengan penuh martabat, kasih dan kedamaian.
Menurutnya, pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa ilmu pengetahuan dan pelayanan kemanusiaan merupakan panggilan yang dapat menyatukan manusia tanpa melihat perbedaan latar belakang.
“Pengalaman hidup ini makin meneguhkan keyakinan saya, bahwa ilmu pengetahuan dan pelayanan kemanusiaan adalah panggilan universal. Keduanya mampu meruntuhkan setiap sekat perbedaan, baik usia, latar belakang budaya, maupun keyakinan,” katanya.
Ia berharap kelulusannya dapat ikut mempererat hubungan Indonesia dan Timor-Leste, khususnya dalam kerja sama di bidang kesehatan dan kemanusiaan.
Sementara itu, Wisuda UNISA Yogyakarta periode ke-27 meluluskan 928 mahasiswa dari program magister, sarjana, sarjana terapan dan diploma.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 779 lulusan atau 83,94 persen meraih predikat cumlaude. IPK tertinggi diraih lulusan Program Pascasarjana dengan nilai 4,00, sementara rata-rata IPK mencapai 3,92.
Dalam kesempatan tersebut, Rektor UNISA Yogyakarta mengingatkan para lulusan bahwa ijazah dan gelar bukanlah akhir dari perjalanan menuntut ilmu, melainkan awal untuk menghadapi kehidupan nyata dengan berbagai tantangan.
Ia juga menekankan pentingnya integritas, empati, kepedulian dan tanggung jawab di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan.
“Teknologi boleh semakin canggih, tetapi integritas tidak boleh tergantikan. Kecerdasan buatan boleh membantu kita bekerja lebih cepat, tetapi empati, kepedulian, tanggung jawab, dan kemampuan memahami manusia tetap menjadi kekuatan yang sangat penting,” pesan Rektor.
Wisuda kemudian ditutup dengan doa dan pesan bagi para lulusan agar terus membawa nilai-nilai almamater serta memberikan manfaat bagi masyarakat.
Kisah Suster Dulce menjadi salah satu cerita dari wisuda tersebut yang memperlihatkan bagaimana ruang pendidikan dapat mempertemukan mahasiswa dengan latar belakang usia, budaya dan keyakinan yang berbeda.
