AHY Sebut Kementerian Era Prabowo Saling Rebutan Anggaran karena Ego Sektoral
Social Media
Communication
Bookmarking
Developer
Entertainment
Academic
Finance
Lifestyle
25 Mei 2025, ph@geosiar.co.id
JAKARTA, GEOSIAR.CO.ID —Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono yang juga Ketua Umum Partai Demokrat menyoroti ego sektoral antarkementerian dan lembaga di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
AHY menilai ego itu membuat masing-masing kementerian merasa paling penting hingga saling berebut anggaran. Pernyataan disampaikan saat membuka Musyawarah Nasional Ke-11 Ikatan Alumni SMA Taruna Nusantara (Ikastara) di Senayan, Jakarta, Sabtu (23/5/2026).
Menurut AHY, sekat antarinstansi masih kerap muncul meski seluruh kementerian memiliki tujuan pembangunan yang sama.
“Masalahnya sekarang terlalu sering, termasuk di birokrasi, antarkementerian dan lembaga itu seperti ada sekat-sekat, seperti ada barriers (penghalang), ego,” ujar AHY saat membuka Munas Ikastara, Sabtu (23/5/2026).
“Yang paling sering itu ego. Enggak ada yang salah, tapi ‘pokoknya gue dulu. Gue lebih penting. Gue harus lebih banyak anggarannya’. Padahal, tujuannya sama,” lanjutnya.
AHY menyampaikan hal itu saat menyoroti tema Munas Ikastara ke-11, yakni “Connect, Collaborate and Lead the Change” (Terhubung, Berkolaborasi, dan Memimpin Perubahan). Ia menilai tema tersebut relevan dengan tantangan pemerintah dalam membangun kolaborasi lintas sektor.
Ia menekankan koneksi dan kolaborasi penting agar kementerian, lembaga, pemerintah daerah, akademisi, dunia usaha, media, hingga komunitas berjalan dalam arah yang sama.
Menurut AHY, ego sektoral dapat membuat pembangunan tidak terintegrasi dan akhirnya tidak optimal. Ia mencontohkan pembangunan infrastruktur yang tidak saling terhubung akibat minimnya koordinasi antarinstansi.
“Mungkin di masa lalu ada pembangunan infrastruktur yang tidak saling terhubung satu sama lain, mungkin saja karena tidak bicara satu sama lain,” kata AHY.
Ia juga mencontohkan pembangunan bandara besar yang tidak akan optimal apabila akses konektivitas menuju lokasi tersebut terbatas.
“Kita membuat bandara besar, tapi kalau konektivitas menuju ke bandara tersebut masih sangat terbatas, bandara itu sepi menjadi tidak optimal penggunaannya,” ujar AHY.
Selain itu, ia menyinggung pembangunan sektor pariwisata yang sulit berkembang apabila akses menuju kawasan wisata tidak dipersiapkan dengan baik.
Pada forum yang sama, AHY mendorong alumni Taruna Nusantara untuk tidak ragu terjun ke dunia politik dan pemerintahan. Ia menilai kontribusi alumni selama ini masih didominasi sektor militer, birokrasi, dan dunia usaha.
“Saya berharap ke depan semakin banyak Ikastara yang mengambil peran-peran di pemerintahan. Sebelum pada pemerintahan di tingkat tertinggi, di pusat atau nasional, tentu ada pemerintahan di tingkat kabupaten kota dan provinsi,” kata AHY.
Putra sulung Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono itu menegaskan perubahan dan transformasi suatu negara tidak bisa dilepaskan dari peran politik, pemerintahan, dan birokrasi.
“Jadi tidak salah kalau kemudian sebagian mengambil jalur politik, jalur politisi dan menjadi wakil-wakil rakyat. Karena boleh ada yang tidak suka dengan DPR, dengan wakil rakyat, tapi realitasnya adalah setiap kebijakan politik itu diawali dan diakhiri oleh proses politik,” ujarnya.
Â
www.geosiar.co.id