Antrean BBM Mengular, Pertalite Eceran Dijual Rp25.000 per Botol
Social Media
Communication
Bookmarking
Developer
Entertainment
Academic
Finance
Lifestyle
ph@geosiar.co.id
BINJAI, GEOSIAR.CO.ID – Antrean panjang kendaraan terjadi di hampir seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Binjai, Sumatera Utara, Selasa (14/7/2026).
Kelangkaan pasokan Pertalite dan Pertamax membuat ratusan pengendara roda dua, mobil, hingga truk harus menunggu selama berjam-jam untuk mendapatkan bahan bakar. Kondisi tersebut bahkan memicu kenaikan harga Pertalite di tingkat pengecer hingga Rp25.000 per botol.
Pantauan di SPBU Jalan Perintis Kemerdekaan, Binjai Utara, menunjukkan antrean kendaraan roda empat dan truk mengular hingga ke badan jalan. Sementara itu, stok Pertalite dan Pertamax telah habis sehingga hanya Solar yang masih tersedia.
Seorang warga, Rizal, mengatakan Pertalite dan Pertamax sempat tersedia pada pagi hari, namun pembeliannya dibatasi maksimal Rp50.000 untuk setiap sepeda motor. Setelah stok habis, masyarakat terpaksa mencari BBM ke SPBU lain.
Kondisi serupa terjadi di SPBU Jalan Soekarno Hatta, Binjai Timur. Ratusan kendaraan mengantre hingga menyebabkan kemacetan di sekitar lokasi. Personel Satlantas Polres Binjai diterjunkan untuk mengurai arus lalu lintas, sementara petugas SPBU tetap melayani pengisian BBM secara bergantian.
Sejumlah warga mengaku harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk memperoleh BBM. Ari, warga Sunggal yang setiap hari beraktivitas di Binjai, mengaku telah mengantre sekitar tiga jam.
“Saya sudah tiga jam mengantre. Mau tidak mau ditunggu karena di SPBU lain Pertalite dan Pertamax juga kosong,” katanya.
Merespons kondisi tersebut, Pemerintah Kota Binjai melakukan inspeksi ke sejumlah SPBU. Berdasarkan penjelasan pengelola, antrean terjadi akibat keterlambatan distribusi BBM karena keterbatasan armada pengangkut, bukan karena pembatasan penjualan kepada masyarakat.
Pemerintah Kota memastikan akan terus memantau distribusi dan berkoordinasi dengan Pertamina agar pasokan kembali normal.
Di tingkat provinsi, Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution menyebut persoalan utama bukan terletak pada stok BBM, melainkan terganggunya distribusi akibat pemberhentian massal sopir truk tangki Pertamina.
Pemprov Sumut telah berkoordinasi dengan Pertamina serta TNI dan Polri untuk menyiapkan personel yang dapat mengemudikan truk tangki sementara hingga proses perekrutan sopir baru selesai.
Sementara itu, Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas terganggunya distribusi BBM. Perusahaan menjelaskan lonjakan konsumsi pascalibur sekolah dan penyesuaian operasional distribusi menyebabkan pasokan di sejumlah SPBU tidak mampu mengimbangi tingginya permintaan.
Untuk mempercepat pemulihan distribusi, Pertamina mengoperasikan Fuel Terminal Medan selama 24 jam, menambah 20 unit mobil tangki, menerapkan sistem spot charter, serta mendatangkan tambahan awak mobil tangki dari terminal lain.
Distribusi juga diperkuat melalui alih suplai dari Fuel Terminal Kisaran, Pematangsiantar, dan Lhokseumawe dengan dukungan personel TNI.
Kelangkaan BBM turut dimanfaatkan sebagian pedagang eceran. Di kawasan Medan Selayang, harga Pertalite dalam botol ukuran sekitar 1,5 liter dilaporkan naik dari Rp20.000 menjadi Rp25.000. Sejumlah pedagang lain tetap menjual dengan harga lama, namun isi dalam botol disebut tidak lagi penuh.
Warga berharap distribusi BBM segera kembali normal karena antrean panjang dan kenaikan harga eceran mulai mengganggu aktivitas masyarakat, terutama pengemudi angkutan umum, ojek daring, serta pekerja yang bergantung pada kendaraan bermotor.
