Cerita Prabowo Awal Mulai B50 Banyak Ditentang
Social Media
Communication
Bookmarking
Developer
Entertainment
Academic
Finance
Lifestyle
ph@geosiar.co.id
JAKARTA, GEOSIAR.CO.ID – Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa penerapan biodiesel B50 di Indonesia sempat mendapat banyak penolakan. Menurutnya, penolakan tersebut dipengaruhi kepentingan pihak-pihak yang ingin Indonesia tetap bergantung pada impor bahan bakar minyak (BBM), khususnya solar.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat meresmikan lima bendungan pada Jumat (10/7/2026), sebagaimana disiarkan melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden.
Prabowo mengatakan berbagai alasan pernah dikemukakan untuk menolak penggunaan biodiesel B50, mulai dari kekhawatiran mesin kendaraan akan rusak hingga anggapan produsen otomotif tidak akan menyediakan suku cadang yang sesuai.
“Dulu waktu kita mulai, banyak yang menentang. Dibilang tidak bisa dipakai, nanti mesin rusak, nanti pabrik tidak mau kasih kita mesin, dan berbagai alasan lainnya. Mereka tidak mau kita menggunakan B50 karena ingin kita terus impor solar. Dari impor itu ada yang mengambil komisi,” kata Prabowo.
Menurut Prabowo, implementasi B50 akan mengurangi bahkan menghentikan ketergantungan Indonesia terhadap impor solar. Ia memperkirakan kebijakan tersebut berpotensi menghemat devisa negara hingga sekitar Rp170 triliun.
“Bayangkan kalau itu Rp170 triliun. Kalau komisinya 20 persen, berarti sekitar Rp34 triliun. Nilai sebesar itu dinikmati hanya oleh segelintir orang,” ujarnya.
Prabowo menegaskan pemerintah berkomitmen memberantas praktik korupsi dan menghapus berbagai bentuk rente, termasuk yang berkaitan dengan kegiatan impor.
Ia mengatakan pemerintahan yang dipimpinnya bersama koalisi pendukung akan terus berupaya mewujudkan kemakmuran masyarakat dengan memperkuat tata kelola pemerintahan yang bersih.
“Dengan mandat yang diberikan rakyat, yang kita perjuangkan adalah mewujudkan kemakmuran bagi rakyat Indonesia dengan mengurangi, bahkan jika bisa menghabisi, praktik korupsi,” tegas Prabowo.
