Pontianak Jadi Kota dengan Kualitas Udara Terburuk Se-Indonesia
Social Media
Communication
Bookmarking
Developer
Entertainment
Academic
Finance
Lifestyle
ph@geosiar.co.id
PONTIANAK, GEOSIAR.CO.ID – Kota Pontianak tercatat sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di Indonesia pada Senin (27/7/2026) malam. Buruknya kualitas udara tersebut diduga dipicu meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan Barat.
Berdasarkan data pemantauan kualitas udara secara real time pukul 23.00 WIB, Indeks Kualitas Udara (AQI US) di Pontianak mencapai 248 atau masuk kategori Sangat Tidak Sehat. Sementara itu, konsentrasi partikel halus PM2.5 tercatat mencapai 173 mikrogram per meter kubik (µg/m³).
Dengan angka tersebut, Pontianak berada di posisi pertama kota dengan tingkat polusi udara tertinggi di Indonesia, mengungguli South Tangerang, Bandung, Medan, Serpong, Jakarta, Pekanbaru, Tangerang, Palembang, dan Semarang.
Data tersebut dihimpun dari sejumlah stasiun pemantauan kualitas udara milik Lab Geofisika FMIPA Universitas Tanjungpura, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), serta Greenpeace Indonesia.
Kondisi udara dengan kategori sangat tidak sehat berisiko menimbulkan gangguan kesehatan bagi seluruh masyarakat, terutama anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit pernapasan.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), partikel PM2.5 berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk hingga ke paru-paru dan aliran darah. Paparan dalam kadar tinggi dapat meningkatkan risiko iritasi saluran pernapasan, memperburuk asma, infeksi paru, hingga penyakit jantung dan stroke.
Meningkatnya polusi udara di Pontianak terjadi bersamaan dengan meluasnya kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah Kalimantan Barat.
Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Kalbar per 27 Juli 2026, penanganan karhutla saat ini berlangsung di sedikitnya delapan kabupaten, yakni Kubu Raya, Ketapang, Kayong Utara, Mempawah, Bengkayang, Sambas, Sintang, dan Melawi.
Koordinator Harian Pusdalops BPBD Kalbar, Daniel, mengatakan operasi pemadaman terus dilakukan secara terpadu oleh BPBD bersama TNI, Polri, Manggala Agni, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), pemerintah desa, hingga masyarakat.
“Operasi darat terus dilakukan oleh BPBD kabupaten/kota bersama TNI, Polri, Manggala Agni, KPH, pemerintah desa hingga masyarakat sesuai kondisi di masing-masing daerah,” ujarnya.
Menurut Daniel, minimnya sumber air dan sulitnya akses menuju lokasi kebakaran, terutama di kawasan gambut, masih menjadi kendala utama dalam proses pemadaman.
Kabupaten Kubu Raya masih menjadi wilayah dengan penanganan karhutla terbesar. Selain operasi darat, BPBD juga mengerahkan patroli udara dan helikopter water bombing untuk memadamkan titik-titik api.
Di sisi lain, Balai Pengelolaan Ekosistem Gambut dan Mangrove (BPEGM) Pontianak mengingatkan pentingnya menjaga lahan gambut tetap basah guna mencegah kebakaran semakin meluas.
Kepala BPEGM Pontianak, Yunus Sudaryanti, mengatakan Kalimantan Barat memiliki sekitar 2,79 juta hektare ekosistem gambut atau sekitar 33,28 persen dari total luas gambut di Pulau Kalimantan.
Menurutnya, pengelolaan gambut yang baik tidak hanya mampu menekan risiko karhutla, tetapi juga menjaga kualitas udara serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan gambut secara berkelanjutan.
Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara masih berada pada kategori sangat tidak sehat. Penggunaan masker yang mampu menyaring partikel halus seperti KN95 juga disarankan, terutama bagi kelompok rentan, hingga kondisi udara kembali membaik.
