Sekolah Roboh Akibat Gempa NTT, Guru SD Katolik Doki Tetap Mengajar di Bawah Terpal
Social Media
Communication
Bookmarking
Developer
Entertainment
Academic
Finance
Lifestyle
ph@geosiar.co.id
NAGEKEO,GEOSIAR.CO.ID -Gempa bumi yang mengguncang Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), tidak menghentikan aktivitas belajar para siswa SD Katolik Doki.
Meski dua ruang kelas roboh dan empat ruang lainnya mengalami kerusakan berat, para guru tetap berupaya memastikan anak-anak tidak kehilangan hak untuk mendapatkan pendidikan.
Sejak 20 Agustus 2026, guru SD Katolik Doki mulai menggelar pembelajaran di sejumlah posko pengungsian. Ruang belajar sementara dibuat menggunakan rangka bambu dan terpal agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan.
Kepala SD Katolik Doki, Maria Sefiriana Sebo, mengatakan para guru harus beradaptasi dengan kondisi darurat, termasuk menerapkan pembelajaran kelas rangkap karena dalam satu lokasi terdapat siswa dari berbagai jenjang.
“Kesulitan guru dalam mendesain pembelajaran kelas rangkap karena di setiap posko bergabung beberapa kelas mulai dari TK, SD, hingga SMP,” ujar Maria.
Belajar di Posko Pengungsian
Kondisi pascagempa membuat sekolah bersama orang tua dan pemerintah setempat membangun tiga titik posko belajar berdasarkan lokasi tempat tinggal siswa.
Di tempat tersebut, guru mengatur pola pembelajaran sesuai kebutuhan peserta didik.
Untuk siswa kelas 1 hingga 3, pembelajaran difokuskan pada kemampuan dasar membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Sementara siswa kelas atas diarahkan memperkuat kemampuan literasi, numerasi, serta materi pelajaran utama.
Selain pembelajaran akademik, guru juga memberikan perhatian terhadap kondisi psikologis siswa yang mengalami trauma akibat gempa.
Pendampingan psikososial dilakukan bersama tim relawan Argem (Arrow Generation Movement) Kota Kupang pada 26 Agustus 2026 untuk membantu anak-anak kembali merasa aman.
“Antusias anak-anak mulai terlihat dan mereka tidak takut atau masih panik,” kata Maria.
Dukungan Datang dari Berbagai Pihak
Kegiatan belajar darurat tersebut juga mendapat dukungan dari Taman Baca Pelangi melalui bantuan terpal dan alat tulis kantor (ATK).
Maria berharap guru-guru mendapatkan pelatihan khusus terkait pembelajaran kelas rangkap agar lebih siap menghadapi kondisi darurat seperti bencana alam.
Menurutnya, kemampuan mengelola pembelajaran dalam situasi krisis menjadi kebutuhan penting bagi tenaga pendidik.
Bangunan Sekolah Menunggu Pemulihan
Selain proses belajar, kondisi bangunan SD Katolik Doki juga menjadi perhatian.
Sebelum gempa terjadi, sekolah tersebut telah masuk dalam program revitalisasi satuan pendidikan Angkatan 3 Tahap 1 dan telah mengikuti bimbingan teknis di Surabaya.
Program tersebut mencakup rehabilitasi enam ruang kelas. Namun, gempa menyebabkan dua ruang kelas roboh total dan empat ruang lainnya mengalami kerusakan berat.
Maria berharap pemerintah segera melakukan survei lapangan untuk menentukan langkah rehabilitasi sesuai kondisi bangunan terbaru.
“Semoga program revitalisasi sekolah yang sudah mengikuti bimtek segera mendapatkan tindak lanjut dari pemerintah,” ujarnya.
Dampak gempa juga dirasakan oleh tenaga pendidik. Rumah dinas kepala sekolah roboh, sementara sejumlah rumah dinas guru mengalami kerusakan berat. Namun kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat guru untuk tetap mendampingi para siswa.
Hak Anak untuk Belajar Harus Tetap Dijaga
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menegaskan bahwa bencana tidak boleh menghilangkan hak anak untuk memperoleh pendidikan.
Menurutnya, proses belajar dalam kondisi darurat memang dapat dilakukan dengan cara dan tempat yang berbeda, tetapi keamanan serta pemulihan psikologis anak tetap menjadi prioritas.
“Dalam situasi bencana, pembelajaran mungkin harus dilakukan dengan cara dan tempat yang berbeda. Yang penting, hak anak untuk belajar tetap kita jaga dan anak-anak mendapatkan rasa aman untuk kembali belajar,” kata Abdul Mu’ti.
Ia menambahkan, pemulihan pendidikan membutuhkan kerja sama antara sekolah, orang tua, masyarakat, pemerintah daerah, dan pemerintah pusat.
Kisah SD Katolik Doki menunjukkan bahwa pemulihan pendidikan pascabencana tidak selalu dimulai dari bangunan yang kembali berdiri. Di tengah keterbatasan, guru menjadi penghubung agar anak-anak tetap belajar dan perlahan bangkit dari trauma akibat gempa.
