Sulit Cari Kerja, Lulusan S1 hingga S2 Indonesia Melamar Jadi ART di Singapura
Social Media
Communication
Bookmarking
Developer
Entertainment
Academic
Finance
Lifestyle
ph@geosiar.co.id
JAKARTA, GEOSIAR.CO.ID -Sulitnya mencari pekerjaan di dalam negeri mendorong sejumlah lulusan perguruan tinggi Indonesia melamar pekerjaan sebagai asisten rumah tangga (ART) di Singapura. Bahkan, pelamar dengan gelar magister atau S2 disebut ikut mencari peluang kerja di sektor domestik tersebut.
Fenomena ini diungkapkan Arumi Marsudi, warga Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, yang selama sekitar lima tahun terakhir bekerja sebagai tenaga administrasi pada perusahaan penyedia tenaga kerja rumah tangga di Singapura.
Arumi mengatakan, sekitar 50 persen pelamar pemula yang belum pernah bekerja sebagai pekerja migran merupakan lulusan perguruan tinggi.
“Saya tidak bisa menyebutkan angka pastinya karena harus melihat data. Tapi setidaknya 50 persen dari pelamar pemula adalah lulusan perguruan tinggi,” ujar Arumi kepada Kompas.com melalui telepon, Senin (19/10/2026) malam.
Menurut dia, para pelamar tersebut memiliki latar belakang pendidikan beragam, mulai dari diploma tiga (D3), sarjana (S1), hingga magister (S2).
“ Mereka lulusan perguruan tinggi mulai dari jenjang D3, S1 bahkan gongnya beberapa hari lalu ada pelamar lulusan S2,” katanya.
Arumi mengetahui fenomena tersebut dari pekerjaannya yang berkaitan dengan aplikasi digital untuk mempertemukan pencari kerja sektor rumah tangga dengan keluarga yang membutuhkan tenaga kerja di Singapura.
Tugasnya mencakup pemeriksaan data lamaran dan wawancara calon pekerja sebelum mereka ditawarkan kepada calon majikan. Perusahaan tempatnya bekerja membagi pelamar menjadi dua kelompok, yakni mereka yang sudah berpengalaman sebagai pekerja migran sektor domestik dan mereka yang belum pernah bekerja di luar negeri.
Dalam sebulan, jumlah pelamar yang masuk dapat mencapai sekitar 200 orang. Sekitar separuhnya merupakan pelamar pemula yang belum memiliki pengalaman sebagai pekerja migran.
Mengaku Kesulitan Mendapat Pekerjaan
Arumi menuturkan, berdasarkan wawancara yang dilakukannya, sejumlah lulusan perguruan tinggi memilih melamar pekerjaan rumah tangga di Singapura karena kesulitan memperoleh pekerjaan yang sesuai di Indonesia.
Sebagian pelamar mengeluhkan terbatasnya kesempatan kerja dan penghasilan yang dinilai tidak mencukupi kebutuhan hidup.
“Mereka menyatakan sudah menyerah dengan kondisi di dalam negeri terutama ekonominya. Sulit mencari kerja. Kalau pun dapat pekerjaan, gajinya habis dalam satu dua pekan saja,” ujar Arumi.
Ia mencontohkan seorang pelamar lulusan pascasarjana dari perguruan tinggi negeri di Jakarta yang sebelumnya bekerja sebagai guru atau dosen.
Pelamar tersebut, menurut Arumi, merasa kecewa dengan penghasilan yang diterimanya. Selain menilai gajinya rendah untuk kualifikasi pendidikan S2, pelamar itu juga mengeluhkan keterlambatan pembayaran tunjangan profesi yang disebut sempat berlangsung selama tiga bulan.
Arumi juga menyebut banyak pelamar pemula berasal dari kota-kota besar, termasuk Jakarta dan sekitarnya. Kondisi tersebut berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya, ketika pekerjaan sektor informal di luar negeri lebih banyak diminati warga pedesaan dengan latar belakang pendidikan SD, SMP, atau SMA.
Meski demikian, keterangan tersebut berdasarkan pengalaman Arumi dalam menangani pelamar di perusahaan tempatnya bekerja dan belum menggambarkan keseluruhan kondisi pasar kerja Indonesia.
Gaji Mulai Rp 7,7 Juta per Bulan
Dari sisi penghasilan, Arumi menyebut pekerja migran yang belum berpengalaman di sektor rumah tangga Singapura menerima gaji sekitar 550 dolar Singapura per bulan atau setara Rp 7,7 juta, dengan asumsi kurs Rp 14.000 per dolar Singapura.
Sementara itu, pekerja yang telah memiliki pengalaman dapat menegosiasikan gaji dengan calon majikan. Menurut Arumi, penghasilan pekerja berpengalaman berkisar 700 hingga 1.500 dolar Singapura per bulan.
Arumi mengatakan perusahaan tempatnya bekerja tidak membebankan biaya kepada pelamar maupun memotong gaji setelah mereka mulai bekerja.
“Di kami, pelamar tidak mengeluarkan uang sepeser pun. Begitu juga setelah bekerja, tidak ada potongan gaji,” ujarnya.
Ia membandingkan kondisi tersebut dengan biaya yang menurutnya dapat dibebankan kepada pekerja migran melalui perusahaan pemberangkatan, yang disebut mencapai lebih dari Rp 50 juta.
Fenomena lulusan perguruan tinggi melamar sebagai ART di Singapura memperlihatkan pilihan pekerjaan yang diambil sebagian pencari kerja Indonesia ketika menghadapi keterbatasan kesempatan kerja dan persoalan penghasilan di dalam negeri. Namun, besarnya fenomena tersebut secara nasional masih memerlukan data yang lebih luas untuk memastikan skala dan penyebabnya.
