OJK: Sektor Jasa Keuangan Sumatera Utara Stabil di Tengah Dinamika Ekonomi Global
GEOSIAR.CO.ID 13 Maret 2026 Penulis : ph@gseosiar.co.id
MEDAN, GEOSIAR.CO.ID – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Utara menyatakan sektor jasa keuangan di wilayah tersebut tetap menunjukkan kinerja stabil dan resilien hingga akhir tahun 2025 meski tekanan ekonomi global terus berlangsung.
Kepala OJK Provinsi Sumatera Utara Khoirul Muttaqien menyebut stabilitas itu tercermin dari pertumbuhan intermediasi perbankan, ketahanan permodalan yang kuat, serta kualitas kredit yang terjaga. Saat ini terdapat 217 entitas jasa keuangan yang beroperasi di Sumatera Utara, terdiri dari 57 bank umum, 49 BPR/BPRS, 27 perusahaan pergadaian, dua lembaga keuangan mikro syariah, satu dana pensiun, serta berbagai lembaga di sektor pasar modal dan industri keuangan non-bank.
PDRB Sumut Tembus Rp1.236 Triliun
Muttaqien mengatakan perekonomian Sumatera Bagian Utara menunjukkan kinerja yang solid sebagai fondasi stabilitas sektor keuangan daerah. “Di tingkat regional, perekonomian wilayah Sumatera Bagian Utara menunjukkan kinerja yang baik. Pada tahun 2025, Provinsi Sumatera Utara mencatatkan Produk Domestik Regional Bruto sebesar Rp1.236,19 triliun dan menjadi salah satu kontributor utama terhadap perekonomian Pulau Sumatera,” kata Muttaqien, Selasa (10/3/2026). Capaian PDRB itu menjadi latar belakang solidnya kinerja intermediasi perbankan di provinsi tersebut.
Kredit Bank Umum Rp356 Triliun, BPR/BPRS Rp3,18 Triliun
Hingga Desember 2025, outstanding kredit bank umum di Sumatera Utara tercatat mencapai sekitar Rp356 triliun dengan penghimpunan dana masyarakat yang terus meningkat. BPR/BPRS mencatatkan total kredit sekitar Rp3,18 triliun, yang menurut Muttaqien mencerminkan peran penting lembaga tersebut dalam mendukung pembiayaan sektor usaha mikro dan kecil. Kedua indikator itu menjadi penopang utama intermediasi keuangan di tingkat daerah.
Fintech dan Modal Ventura Tumbuh Signifikan
Pada sektor Pembiayaan, Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Fintech Lending (PVML), kinerja juga positif sepanjang 2025. Perusahaan pembiayaan mencatat outstanding pembiayaan sebesar Rp23,37 triliun dengan pertumbuhan 1,47 persen dan rasio non-performing financing (NPF) terjaga di level 2,63 persen. Perusahaan modal ventura mencatat pertumbuhan 52,25 persen secara tahunan menjadi Rp695,8 miliar, sementara fintech peer-to-peer lending tumbuh 34,01 persen dengan outstanding Rp3,56 triliun dan tingkat wanprestasi 90 hari (TWP90) rendah di angka 1,70 persen.
Pergadaian Swasta dan Pasar Modal Melonjak
Pergadaian swasta di Sumatera Utara mencatat pertumbuhan paling mencolok dengan peningkatan aset sebesar 114 persen dan kenaikan penyaluran pinjaman sebesar 109 persen pada Desember 2025. Di sisi pasar modal, jumlah Single Investor Identification (SID) meningkat 46,25 persen secara tahunan dengan pertumbuhan tertinggi pada investor reksa dana sebesar 46,59 persen, diikuti saham 38,10 persen dan Surat Berharga Negara 14,79 persen. Nilai transaksi saham oleh investor Sumatera Utara hampir tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
67.284 Debitur Terdampak Bencana Dipantau
OJK juga menerapkan kebijakan stimulus bagi debitur terdampak bencana melalui POJK Nomor 19 Tahun 2022 yang mengatur perlakuan khusus terhadap kredit atau pembiayaan di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Hingga akhir 2025, tercatat 67.284 debitur terdampak bencana di Sumatera Utara dengan potensi restrukturisasi kredit yang terus dimonitor. Dana pensiun mencatatkan peningkatan nilai investasi sebesar sembilan persen secara tahunan menjadi Rp1,32 triliun, meski premi asuransi umum dan jiwa mengalami penurunan sepanjang 2025.
GERAK Syariah Perkuat Literasi Keuangan Ramadan
Selama bulan Ramadan, OJK Provinsi Sumatera Utara menyelenggarakan rangkaian kegiatan Gebyar Ramadan Keuangan Syariah (GERAK Syariah) 2026 yang berlangsung sepanjang Februari hingga Maret 2026. Kegiatan itu meliputi podcast keuangan syariah, literasi keuangan di sekolah dan pondok pesantren, talk show Ramadan antarlembaga, serta kegiatan sosial berbagi takjil. OJK menyatakan akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah, pelaku industri jasa keuangan, dan media massa dalam menjaga stabilitas sektor keuangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
www.geosiar.co.id

