Perusahaan-perusahaan tersebut tersebar di Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, dan Jawa Tengah dengan total tenaga kerja sekitar 9.000 orang. Peringatan itu disampaikan Said Iqbal kepada Detik.com, Selasa (14/4/2026).
“Berdasarkan laporan dari anggota KSPI di pabrik, mereka sudah mulai diajak bicara, belum melakukan PHK, baru diajak bicara. Kalau perang tetap berlanjut, maka tiga bulan ke depan ini pasti ada potensi PHK,” kata Said Iqbal, sebagaimana dilaporkan CNN Indonesia.
Sektor yang paling rentan adalah industri padat karya seperti tekstil, garmen, dan alas kaki yang sangat bergantung pada bahan baku impor seperti kapas dari Australia, Brasil, dan Amerika Serikat.
Kenaikan harga bahan baku impor dan gangguan rantai pasok global akibat konflik di Timur Tengah menjadi pemicu utama tekanan efisiensi di perusahaan-perusahaan tersebut.
Industri otomotif dan elektronik juga tidak luput dari ancaman serupa. Kenaikan harga bahan bakar minyak non-subsidi mendorong perusahaan mempertimbangkan pengurangan karyawan kontrak.
Industri berbasis petrokimia dan plastik turut terdampak karena bahan bakunya berbasis impor yang dibayar dalam dolar Amerika Serikat.
Said menegaskan PHK belum terjadi dan masih pada tahap pembicaraan awal. Ia mengusulkan pemerintah membentuk Satuan Tugas khusus PHK untuk mengantisipasi dampak yang lebih luas.