“Model ekonomi sirkular memungkinkan untuk diterapkan di industri kelapa sawit dan memang harus diterapkan. Bagaimana menerapkan itu semua? Pastinya membutuhkan ilmu dan teknologi,” kata Siti di Jakarta, Rabu (15/4/2026), sebagaimana dilaporkan ANTARA.
Dosen dari Departemen Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University ini menjelaskan bahwa kelapa sawit termasuk tanaman yang dikategorikan sebagai zero waste crop atau tanaman nihil limbah. Seluruh bagian tanaman sawit mulai dari buah, biji, pelepah, tandan kosong, hingga batang, dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat.
Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) misalnya, bisa dioptimalkan menjadi produk biomaterial seperti helm, rompi antipeluru, hingga sepatu. Siti sendiri telah melakukan berbagai penelitian inovatif yang menghasilkan produk berbahan dasar limbah TKKS tersebut, sebagaimana dilaporkan JawaPos.
Bukan hanya tandan kosong, cangkang sawit atau palm oil shell juga punya potensi besar. Pemanfaatannya meliputi bahan bakar boiler di pabrik kelapa sawit, bahan campuran beton dan material bangunan, hingga bahan baku biobriket dan biopelet, sebagaimana dilaporkan ANTARA.
“Jadi, yang saya lakukan untuk memanfaatkan tandan kosong kelapa sawit menjadi produk-produk biomaterial itu merupakan upaya untuk menerapkan model ekonomi sirkular di industri sawit,” ujar Siti, sebagaimana dilaporkan JawaPos.
Siti menyampaikan bahwa ia mendapat dukungan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dalam melakukan penelitian terkait penerapan ekonomi sirkular di industri sawit.
“Sudah ada bukti nyata bahwa BPDP mendukung penelitian inovatif untuk kemajuan sawit di Indonesia. Saya termasuk peneliti yang mendapat dukungan dana penelitian sawit dari BPDP,” jelasnya, sebagaimana dilaporkan ANTARA.
Penerapan ekonomi sirkular di industri sawit tidak hanya berdampak positif terhadap lingkungan dan ekonomi. Siti menyebut model ini juga berpotensi memberikan dampak sosial karena masyarakat sekitar pabrik atau perkebunan bisa dilibatkan dalam mengolah limbah menjadi produk bernilai tambah.
“Kalau memang perusahaan itu tidak mengolah semua sendiri, bisa melibatkan masyarakat di lingkungan perkebunan kelapa sawit. Pastinya itu akan membawa dampak positif ke masyarakat,” pungkas Siti, sebagaimana dilaporkan JawaPos.