Kemenkes Catat 23 Kasus Hantavirus di Indonesia
Social Media
Communication
Bookmarking
Developer
Entertainment
Academic
Finance
Lifestyle
GEOSIAR.CO.ID 12 Mei 2026 Penulis : ph@geosiar.co.id
JAKARTA , GEOSIAR.CO.ID —Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 23 kasus hantavirus di Indonesia sepanjang 2024 hingga pekan ke-16 tahun 2026, dengan tiga di antaranya meninggal dunia.
Pengawasan hantavirus meningkat seiring munculnya wabah di kapal pesiar MV Hondius yang menewaskan tiga penumpang di Atlantik Selatan.
Hantavirus dikenal sebagai virus zoonosis yang ditularkan hewan pengerat dan memiliki tingkat kematian tinggi pada bentuk parah.
Dari 23 kasus terkonfirmasi, sebanyak 20 pasien sembuh dan tiga meninggal dunia. Total kasus suspek pada periode tersebut mencapai 251 orang, dengan 225 di antaranya negatif dan tiga tidak dapat diperiksa, sebagaimana dilaporkan CNBC Indonesia.
Hantavirus yang ditemukan di Indonesia berasal dari varian Seoul Virus (SEOV). Tipe ini menyebabkan Haemorrhagic Fever With Renal Syndrome (HFRS) atau demam berdarah dengan sindrom ginjal.
Bentuk klinis hantavirus terbagi dua. HFRS umumnya ditemukan di Asia dan Eropa, dengan gejala demam, sakit kepala, nyeri badan, lemas, dan tubuh menguning. Masa inkubasi berlangsung satu hingga dua minggu dengan tingkat kematian 5 hingga 15 persen.
Bentuk kedua adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yang lebih banyak ditemukan di benua Amerika. Tingkat kematian HPS dapat mencapai 38 hingga 50 persen berdasarkan data Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat.
Gejala HPS meliputi demam, kelelahan ekstrem, nyeri otot terutama di punggung dan paha, sakit kepala, mual, dan muntah. Pada tahap lanjut, penderita mengalami batuk dan kesulitan bernapas akibat penumpukan cairan di paru-paru.
Wabah hantavirus di kapal MV Hondius milik Oceanwide Expeditions telah menewaskan tiga penumpang. Kapal yang berlayar dari Ushuaia, Argentina, pada 1 April 2026 itu membawa 147 penumpang dan kru dari 23 negara.
World Health Organization (WHO) mengonfirmasi tujuh kasus terkait kapal tersebut hingga 4 Mei 2026. Dari jumlah itu, dua kasus terkonfirmasi laboratorium, lima kasus suspek termasuk tiga kematian, satu pasien dalam kondisi kritis, dan tiga pasien dengan gejala ringan.
Varian yang teridentifikasi pada wabah MV Hondius adalah Andes Virus. Varian ini merupakan satu-satunya jenis hantavirus yang diketahui dapat menular antarmanusia, meski dengan kemungkinan sangat kecil.
WHO menyatakan risiko wabah ini terhadap populasi global secara keseluruhan masih tergolong rendah. Otoritas kesehatan Indonesia telah memperketat pengawasan di Bandara Soekarno-Hatta untuk mengantisipasi penularan.
Sampai saat ini belum ada vaksin maupun pengobatan spesifik untuk hantavirus. Perawatan bersifat suportif dengan fokus mengatasi demam, gangguan pernapasan, dan komplikasi ginjal.
Hantavirus pertama kali dikenali melalui wabah pada tentara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) selama Perang Korea pada 1951 hingga 1954. Lebih dari 3.000 prajurit mengalami gejala berat berupa demam tinggi, perdarahan, syok, hingga gagal ginjal.
Penularan hantavirus ke manusia umumnya terjadi melalui kontak dengan urin, kotoran, atau air liur tikus yang terinfeksi. Partikel virus juga dapat terhirup di udara, terutama saat membersihkan ruangan tertutup yang lama tidak digunakan.
Faktor risiko utama mencakup tinggal di rumah atau area dengan banyak tikus, pekerjaan di sektor konstruksi atau pengendalian hama, serta aktivitas berkemah dan mendaki gunung.
Pencegahan dilakukan melalui metode Seal Up, Trap Up, dan Clean Up dari CDC: menutup celah-celah rumah yang dapat dimasuki tikus, memasang perangkap, serta membersihkan area kotoran tikus dengan disinfektan dan alat pelindung diri.
www.geosiar.co.id
