Rupiah Tembus Rp 17.600 per Dolar AS, Harga Kedelai Hingga Bahan Baku Obat Akan Naik
GEOSIAR.CO.ID 16 Mei 2026 Penulis : ph@geosiar.co.id
JAKARTA, GEOSIAR.CO.ID —Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menembus rekor tertinggi sepanjang masa di kisaran Rp 17.600.
Pelemahan ini diprediksi berdampak langsung pada harga sejumlah kebutuhan pokok serta barang impor dalam dua hingga tiga bulan ke depan.
Sejumlah ekonom memperingatkan dampak inflasi impor akan menyentuh seluruh lapisan masyarakat, mulai dari penjual gorengan hingga kelas menengah.
Ekonom Center of Economics and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, menyebut inflasi dari impor menjadi dampak paling besar dari pelemahan nilai tukar rupiah. Indonesia hingga kini masih banyak mengimpor produk kebutuhan harian.
“Dampaknya adalah, inflasi dari impor akan mulai naik ke depan terutama akibat biaya distribusi naik, harga barang naik. Imported inflation (inflasi impor) akan terjadi, terutama untuk barang yang terkait impor, baik bahan baku, penolong, ataupun konsumsi,” ujar Nailul Huda saat dihubungi detikcom, Jumat (15/5/2026).
Salah satu komoditas yang sudah mulai naik harganya adalah plastik. Bahan baku plastik disebut langka dan biaya distribusinya mahal, sehingga ketika diimpor harganya melonjak akibat rupiah yang lemah.
Huda menjelaskan kenaikan harga plastik berdampak pada produk turunan, termasuk minyak goreng dalam kemasan.
“Jadi, dampak dari pelemahan nilai tukar ini bisa menyeluruh ke semua lapisan masyarakat, mulai dari penjual gorengan hingga pengusaha terkena dampak negatif,” sebut Huda dalam keterangannya kepada detikcom, Jumat (15/5/2026).
Pandangan serupa disampaikan Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet. Ia menyebut Indonesia masih banyak mengimpor gandum, kedelai, bawang putih, susu, bahan baku obat, hingga bahan baku industri.
“Dampaknya pelan-pelan terasa di harga makanan, obat, sampai kebutuhan rumah tangga,” ujar Yusuf Rendy Manilet kepada detikcom, Jumat (15/5/2026).
Rendy menambahkan, kelas menengah turut tertekan karena pelemahan rupiah akan menaikkan harga gadget (perangkat elektronik), kosmetik impor, langganan jasa digital, hingga biaya sekolah dan kuliah luar negeri.
“Orang mungkin tetap bisa membeli, tetapi ruang belanjanya jadi lebih sempit. Ini yang kemudian membuat banyak orang merasa penghasilannya tidak sejauh dulu,” ujarnya kepada detikcom, Jumat (15/5/2026).
Biaya transportasi, termasuk tiket pesawat, juga berpotensi naik. Sebagian besar biaya maskapai berbasis dolar AS, mulai dari avtur, sewa pesawat, suku cadang, hingga perawatan mesin.
“Sebagian besar biaya maskapai berbasis dolar AS, mulai dari avtur, sewa pesawat, suku cadang, sampai perawatan mesin. Jadi, ketika rupiah melemah, biaya operasional maskapai otomatis naik,” kata Rendy dalam keterangan yang sama.
Meski demikian, segelintir pihak disebut mendapat keuntungan dari pelemahan rupiah. Pekerja migran yang digaji dalam mata uang asing memperoleh nominal lebih besar saat dikonversi ke rupiah.
Para eksportir komoditas seperti kelapa sawit, kopi, dan perikanan juga relatif terbantu karena pendapatannya berbasis dolar AS, sementara biaya operasionalnya menggunakan rupiah.
“Tapi secara umum, untuk mayoritas masyarakat, Rupiah yang terlalu lemah tetap lebih banyak menambah tekanan dibanding manfaatnya,” tegas Rendy dalam keterangannya, Jumat (15/5/2026).
.
www.geosiar.co.id

