Viral Dokter Diduga Hina Pasien BPJS, Ini Profil dr Elda Putri Rahardini
Social Media
Communication
Bookmarking
Developer
Entertainment
Academic
Finance
Lifestyle
ph@geosiar.co.id
JAKARTA, GEOSIAR.CO.ID –Nama dr. Elda Putri Rahardini menjadi sorotan setelah akun media sosial yang diduga miliknya dikaitkan dengan komentar terhadap unggahan Yurizal, seorang pasien BPJS yang mengeluhkan belum mendapatkan ruang rawat inap meski telah menunggu selama berjam-jam di rumah sakit.
Unggahan Yurizal tersebut viral dan memicu simpati publik.
Di kolom komentar, akun yang diduga milik dr. Elda disebut menuliskan sejumlah komentar yang dinilai tidak berempati.
Berdasarkan tangkapan layar yang beredar luas di media sosial, akun tersebut diduga menulis kalimat seperti “Kalau mau cepat dapat ruangan ya di ruang jenazah aja” serta “have no brain cell” kepada pasien.
Komentar-komentar itu kemudian menuai kecaman luas dari warganet. Hingga kini, keaslian tangkapan layar tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Di tengah ramainya perbincangan, beredar pula surat permintaan maaf yang diklaim dibuat oleh dr. Elda Putri Rahardini. Dalam pernyataan tersebut, ia mengakui komentarnya tidak pantas dan menyampaikan penyesalan.
“Saya mengakui sepenuhnya bahwa komentar yang saya tuliskan melalui akun media sosial saya beberapa waktu lalu sangatlah tidak pantas, tidak etis, dan menunjukkan ketiadaan empati,” demikian bunyi pernyataan yang beredar di media sosial.
Meski demikian, hingga berita ini ditulis belum ada pernyataan resmi dari institusi tempat dr. Elda bekerja atau menjalani pendidikan yang mengonfirmasi polemik tersebut maupun keaslian surat permintaan maaf yang beredar.
Dr. Elda Putri Rahardini dikenal sebagai dokter, peneliti, sekaligus akademisi Indonesia. Berdasarkan profil akademik yang tersedia untuk publik, ia merupakan lulusan Program Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan predikat cum laude pada 2014.
Ia juga tercatat sebagai penerima beasiswa Monbukagakusho (MEXT) dari Pemerintah Jepang untuk menempuh pendidikan doktor (Ph.D.). Selain itu, ia memperoleh beasiswa LPDP untuk melanjutkan pendidikan spesialis penyakit dalam.
Dalam perjalanan kariernya, dr. Elda pernah menjadi Research Assistant pada Indonesia Research Partnership on Infectious Disease (INARESPOND) di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Ia juga dipercaya sebagai Site Coordinator dalam sejumlah penelitian uji klinis.
Selain aktif di bidang penelitian, dr. Elda pernah bertugas sebagai dokter umum di Klinik Rumah Sehat Universitas Gadjah Mada dan Elvya Medika. Sejumlah sumber juga menyebutkan ia sedang menjalani pendidikan sebagai dokter residen Ilmu Penyakit Dalam.
Polemik yang menyeret nama dr. Elda memicu diskusi luas mengenai etika penggunaan media sosial oleh tenaga kesehatan. Banyak warganet menilai tenaga medis tetap dituntut menjaga profesionalisme dan empati, termasuk ketika memberikan tanggapan terhadap keluhan pasien di ruang digital.
Hingga saat ini belum ada informasi resmi mengenai adanya pemeriksaan ataupun sanksi terhadap dr. Elda Putri Rahardini. Kasus tersebut masih menjadi perbincangan di media sosial, sementara berbagai informasi yang beredar masih menunggu klarifikasi dari pihak-pihak terkait.
