Tukang Becak Mendadak Masuk Desil 9, BPS Buka Suara: Ada Rumah, Motor dan Usaha Ayam
Social Media
Communication
Bookmarking
Developer
Entertainment
Academic
Finance
Lifestyle
ph@geosiar.co.id
YOGYAKARTA, GEOSIAR.CO.ID -Penetapan desil kesejahteraan masyarakat kembali menjadi sorotan setelah seorang tukang becak asal Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mendadak masuk desil 9, padahal sebelumnya tercatat dalam desil 1.
Tukang becak tersebut adalah Timbul (49), warga Kalurahan Ngentakrejo, Kapanewon Lendah, Kulon Progo. Perubahan status itu membuat Timbul khawatir karena berdampak terhadap akses keluarganya terhadap sejumlah program bantuan pemerintah, termasuk keringanan biaya pendidikan bagi anaknya yang baru diterima di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Kasus tersebut kemudian viral di media sosial dan memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana penetapan desil kesejahteraan dilakukan.
Menanggapi hal itu, Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY Endang Tri Wahyuningsih mengatakan pihaknya telah melakukan verifikasi langsung ke rumah Timbul di Lendah, Kulon Progo.
Berdasarkan hasil verifikasi, Timbul tercatat tinggal bersama istri dan seorang anak. Ia sehari-hari bekerja sebagai pengemudi becak motor di kawasan Malioboro, Kota Yogyakarta.
Selain bekerja sebagai pengemudi becak motor, Timbul juga disebut memiliki usaha ayam dalam skala kecil. Keluarganya juga memiliki sepeda motor dan menempati rumah sendiri.
“Jadi, ada tiga anggota rumah tangga, Bapak, Ibu, di sana, gitu ya, dan ada juga kepemilikan motor, tapi kalau rumahnya milik sendiri itu, rumahnya milik sendiri,” ujar Endang saat jumpa pers di Kantor BPS DIY, Senin (24/8/2026).
Endang menjelaskan, penetapan desil tidak hanya ditentukan berdasarkan satu indikator. Data kesejahteraan masyarakat dihimpun dari berbagai sumber, termasuk data administrasi, survei, serta data dari kementerian dan lembaga pemerintah.
“Kita, sekali lagi, dalam hal ini kita tidak mencari salah-salahan, siapa pun, karena sumber data itu kan berasal dari mana-mana, dari kementerian, dari data administrasi, dari survei, dan sebagainya,” katanya.
Ia mengatakan masyarakat yang merasa data desilnya tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya dapat mengajukan pemutakhiran data.
Menurut Endang, masyarakat dapat melakukan pengajuan melalui sejumlah kanal yang telah disediakan pemerintah, termasuk aplikasi Cek Bansos dan SIKS-NG.
“Harus jujur agar dapat data yang baik. Masing-masing dapat memutakhirkan data secara mandiri melalui aplikasi Cek Bansos, SIKS-NG, kemudian WA Center, maupun DTSEN, karena DTSEN dikelola oleh Kemensos maupun BPS,” jelasnya.
Sebelumnya, Timbul mengaku kaget ketika mengetahui status desil keluarganya berubah dari desil 1 menjadi desil 9.
Perubahan tersebut diketahui ketika ia membutuhkan data kesejahteraan untuk keperluan pendidikan anaknya yang diterima di UNY.
Timbul mempertanyakan perubahan tersebut karena menurutnya kondisi ekonomi keluarganya tidak menunjukkan kehidupan yang tergolong berkecukupan.
Ia memang memiliki rumah yang berdinding dan sebagian lantainya telah menggunakan keramik. Namun, Timbul menyebut rumah tersebut masih berkaitan dengan kepemilikan tujuh keluarga.
Ia juga memiliki sepeda motor yang digunakan untuk menunjang aktivitas sehari-hari, terutama perjalanan dari Kulon Progo menuju Yogyakarta.
Sementara becak motor yang menjadi sumber penghasilannya digunakan untuk bekerja di kawasan Malioboro.
Timbul mengatakan beberapa bulan sebelumnya keluarganya masih menerima bantuan berupa beras, minyak goreng dan uang tunai.
Namun setelah status kesejahteraannya berubah menjadi desil 9, ia tidak mengetahui apakah bantuan tersebut masih dapat diterimanya.
Timbul bahkan menyebut status desilnya kini lebih tinggi dibandingkan Lurah Ngentakrejo yang tercatat berada pada desil 8.
Ia pun berupaya meminta bantuan pemerintah desa untuk mengajukan perubahan data agar status kesejahteraan keluarganya dapat kembali sesuai dengan kondisi sebenarnya.
