ESDM Mulai Produksi CNG Pengganti LPG 3 Kg Juli Ini
Social Media
Communication
Bookmarking
Developer
Entertainment
Academic
Finance
Lifestyle
ph@geosiar.co.id
JAKARTA, GEOSIAR.CO.ID -Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan gas alam terkompresi atau Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif pengganti LPG tabung 3 kilogram mulai diproduksi pada Juli 2026. Program tersebut akan diawali dengan uji coba sebelum diterapkan secara lebih luas kepada masyarakat.
Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG sekaligus meningkatkan pemanfaatan gas bumi yang diproduksi di dalam negeri. Selama ini, kebutuhan LPG nasional masih didominasi pasokan impor sehingga membebani anggaran negara.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan produksi perdana CNG akan dimulai bulan depan sebagai tahap awal implementasi program.
“Juli mulai diproduksi. Setelah itu kami lakukan uji coba terlebih dahulu,” kata Tri Winarno di Jakarta, Rabu, 24 Juni 2026.
Tri menjelaskan, pemerintah tidak akan terburu-buru menerapkan penggunaan CNG secara nasional. Tahap uji coba dilakukan untuk memastikan kesiapan infrastruktur, distribusi, serta penerimaan masyarakat terhadap bahan bakar pengganti LPG tersebut.
“Kami ingin melihat bagaimana respons masyarakat dan memastikan seluruh sistem pendukungnya sudah siap,” ujarnya.
Menurut Tri, Indonesia memiliki cadangan gas bumi yang cukup besar sehingga pemanfaatannya perlu terus ditingkatkan. Selama ini sebagian besar kebutuhan memasak rumah tangga masih mengandalkan LPG yang sebagian besar berasal dari impor.
“Kami ingin memanfaatkan gas bumi yang tersedia di dalam negeri sehingga ketergantungan terhadap LPG impor dapat dikurangi,” katanya.
Selain mengurangi impor, pemanfaatan CNG juga diharapkan mampu menekan beban subsidi energi yang setiap tahun dialokasikan pemerintah untuk LPG 3 kilogram.
Kementerian ESDM saat ini masih menyiapkan berbagai kebutuhan pendukung, mulai dari fasilitas produksi, tabung penyimpanan, regulator, hingga sistem distribusi kepada masyarakat. Seluruh tahapan tersebut akan diuji sebelum program diperluas ke berbagai daerah.
Tri menegaskan aspek keselamatan menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan program tersebut. Pemerintah tidak ingin masyarakat menggunakan produk yang belum benar-benar memenuhi standar keamanan.
“Kami tidak ingin terburu-buru. Yang paling penting adalah keamanan masyarakat. Semua harus dipastikan aman sebelum digunakan secara luas,” tegasnya.
Pemerintah juga akan mengevaluasi hasil uji coba untuk mengetahui efektivitas penggunaan CNG sebagai bahan bakar rumah tangga. Hasil evaluasi tersebut akan menjadi dasar dalam menentukan langkah pengembangan program selanjutnya.
Rencana pemanfaatan CNG merupakan salah satu strategi pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Dengan memanfaatkan gas bumi domestik, pemerintah berharap ketergantungan terhadap energi impor dapat ditekan sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.
Selain mendukung ketahanan energi, penggunaan CNG diharapkan mampu menciptakan efisiensi anggaran negara dalam jangka panjang. Selama beberapa tahun terakhir, impor LPG terus meningkat seiring bertambahnya konsumsi rumah tangga, sementara produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan nasional.
