Menko AHY Soroti Dampak Konflik Timur Tengah terhadap Ekonomi dan Energi Indonesia

GEOSIAR.CO.ID 13 April 2026 Penulis : ph@geosiar.co.id

JAKARTA, GEOSIAR.CO.ID -Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan sekaligus Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menyoroti potensi dampak konflik di Timur Tengah terhadap kondisi ekonomi Indonesia, terutama di sektor energi dan biaya hidup masyarakat. Pernyataan itu disampaikan saat AHY menghadiri kegiatan bakti sosial Paskah di Gereja Katolik Santo Andreas, Kedoya, Jakarta Barat, Minggu (12/4/2026).

Pernyataan AHY selaras dengan revisi proyeksi Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. OECD memangkas target Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2026 menjadi 4,8 persen, turun dari proyeksi sebelumnya 5,0 persen yang ditetapkan pada Desember 2025.

Eskalasi konflik antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran disebut OECD sebagai faktor utama yang menekan laju pemulihan ekonomi dunia dalam laporan OECD Economic Outlook edisi Maret 2026. Proyeksi pertumbuhan ekonomi global ikut dipangkas menjadi 2,9 persen pada 2026.

“Kita tahu dunia saat ini penuh ketidakpastian. Konflik global, termasuk di Timur Tengah, bisa berdampak pada ekonomi, energi, dan biaya hidup masyarakat. Karena itu kita harus waspada,” kata AHY, Minggu (12/4/2026).

AHY memastikan pemerintah berupaya melindungi daya beli masyarakat dari dampak kenaikan harga energi. “Kami di pemerintah berusaha sekuat tenaga agar masyarakat tidak terlalu terdampak, termasuk dalam biaya transportasi dan kebutuhan energi,” tambahnya.

Neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus selama 69 bulan berturut-turut, dengan surplus Januari 2026 sebesar 0,95 miliar dolar Amerika Serikat. Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, menyampaikan hal itu dalam laporan kinerja ekonomi Februari 2026 yang dirilis Kemenkeu, Senin (3/3/2026).

“Pemerintah terus memantau secara cermat dinamika geopolitik global serta berbagai risiko yang berpotensi memengaruhi perekonomian nasional. APBN akan terus dikelola secara hati-hati, termasuk dengan menjaga defisit anggaran tetap terkendali di bawah 3 persen PDB,” kata Febrio.

Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Indonesia pada Februari 2026 tercatat 53,8, naik dari 52,6 pada Januari 2026 dan menjadi yang tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir. Meski demikian, OECD mengingatkan bahwa kenaikan harga minyak akibat gangguan jalur energi di Selat Hormuz tetap menjadi risiko utama bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia sebagai negara net importir minyak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *