Pemerintah Siapkan Tabung Merah Putih Pengganti Gas Melon
Social Media
Communication
Bookmarking
Developer
Entertainment
Academic
Finance
Lifestyle
ph@geosiar.co.id
JAKARTA, GEOSIAR.CO.ID -Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mulai menyiapkan tabung compressed natural gas (CNG) bernama Tabung Merah Putih sebagai calon pengganti LPG 3 kilogram (kg) atau yang dikenal sebagai Gas Melon.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaiman, mengatakan nama Tabung Merah Putih sebelumnya telah disampaikan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebagai identitas tabung CNG untuk kebutuhan rumah tangga.
“Pak Menteri kan kemarin ngomong namanya Tabung Merah Putih,” ujar Laode di Gedung DPR RI, Senin (29/6/2026).
Laode menjelaskan, prototipe tabung tersebut mulai dibuat pada Juli 2026. Sebanyak sekitar 15 unit akan diproduksi untuk menjalani serangkaian pengujian di Laboratorium Lemigas.
Menurutnya, kapasitas Tabung Merah Putih akan setara dengan LPG 3 kg. Seluruh prototipe saat ini masih didatangkan dari China.
Tabung CNG itu menggunakan material komposit dengan teknologi tipe empat sehingga bobotnya lebih ringan dibandingkan tabung logam konvensional. Pengujian akan difokuskan pada aspek keselamatan, mulai dari ketahanan tekanan hingga sistem katup (valve).
“Oleh karena itu kita harus membuat yang lebih ringan agar emak-emak nanti tidak merasa penggantinya berat. Kita uji di Lemigas. Yang paling penting safety dari valve dan tabungnya,” jelasnya.
Pemerintah memastikan harga Tabung Merah Putih nantinya akan disamakan dengan harga LPG 3 kg. Meski demikian, penggunaan CNG diperkirakan mampu menekan beban subsidi energi hingga sekitar 30 persen.
“Sama harganya dengan LPG 3 kilogram. Dengan disamakan pun subsidi bisa turun sampai 30 persen,” kata Laode.
Ke depan, pemerintah juga membuka peluang membangun pabrik tabung CNG di Indonesia apabila kebutuhan meningkat. Implementasi program akan dilakukan secara bertahap di berbagai daerah dengan dukungan pasokan gas yang disiapkan bersama SKK Migas.
“Ada peluang untuk itu. Kalau jumlahnya sudah masif, kita punya posisi tawar agar mereka membangun pabrik di Indonesia,” pungkasnya.
