Pertama Kali dalam Lebih dari Enam Dekade
Paus Leo XIV, yang baru terpilih sebagai Uskup Roma pada Mei 2025, menjadikan Pekan Suci 2026 ini sebagai momentum untuk memulihkan sejumlah tradisi kepausan yang sempat ditanggalkan dalam beberapa tahun terakhir. Vatikan mengumumkan bahwa teks meditasi prosesi Jalan Salib tahun ini dipercayakan kepada Biarawan Fransiskan Pastor Francesco Patton, yang menjabat sebagai Kustodian Tanah Suci dari 2016 hingga 2025. Pastor Patton, yang kerap menulis dari Bukit Nebo di Yordania, dikenal sebagai suara yang konsisten bagi mereka yang menderita di tengah konflik dan ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah.
Menyinggung makna gestur memikul salib secara penuh, Paus Leo XIV menyampaikan bahwa tindakan itu merupakan simbol tanggung jawab kepemimpinan Gereja. “Saya rasa ini akan menjadi tanda penting karena apa yang diwakili seorang paus: seorang pemimpin rohani di dunia hari ini, sebuah suara untuk mengatakan bahwa Kristus masih menderita. Dan saya menanggung semua penderitaan ini dalam doa-doa saya,” ujar Paus Leo XIV kepada para jurnalis. Ia juga mengajak semua orang yang berkehendak baik untuk berjalan bersama Kristus yang menderita demi keselamatan umat manusia dan menjadi pembawa damai.
Memulihkan Tradisi Pekan Suci
Sehari sebelum Jumat Agung, Paus Leo XIV juga merayakan Misa Perjamuan Tuhan pada Kamis Putih, 2 April 2026, di Basilika Santo Yohanes Lateran, termasuk membasuh kaki 12 imam sebagai simbol kerendahan hati Kristus. Perayaan tersebut memulihkan tradisi paus merayakan Misa Kamis Putih di katedral keuskupannya, sesuatu yang terakhir dilakukan oleh Paus Benediktus XVI pada 2012. Dalam homilinya, Paus Leo menekankan bahwa umat Kristiani perlu belajar dari Yesus bagaimana mencintai sesama: “Sebagaimana umat manusia dihancurkan oleh begitu banyak tindakan kebrutalan, marilah kita pun berlutut bersama saudara-saudari kita yang tertindas.”
Tradisi Jalan Salib di Koloseum sendiri bermula ketika Paus Benediktus XIV mendedikasikan bangunan bersejarah itu untuk mengenang sengsara Kristus dan para martir Kristen awal pada 1756. Santo Yohanes XXIII yang menghidupkan kembali tradisi ini di Koloseum, sebelum Santo Paulus VI menjadikannya agenda rutin kepausan. Dalam tahun-tahun terakhir masa kepausannya, mendiang Paus Fransiskus tidak lagi hadir di Koloseum karena kondisi kesehatannya yang menurun, dan memilih memimpin Misa Kamis Putih di penjara-penjara sebagai bentuk kedekatan dengan kaum tersisih.