Sering Alami Mata Kedutan Bisa Jadi Sinyal Tubuh Sedang Stres dan Berisiko Picu Masalah Jantung

GEOSIAR.CO.ID 22 April 2026 Penulis : ph@geosiar.co.id

JAKARTA, GEOSIAR.CO.IDMata kedutan atau miokimia yang terjadi secara berulang bisa menjadi tanda awal tubuh sedang merespons peningkatan level stres. Kondisi ini tidak boleh diabaikan karena dapat berujung pada masalah kesehatan yang lebih serius.

Peringatan tersebut disampaikan dokter spesialis jantung Priya Palimkar dari Rumah Sakit Sahyadri di Pune, India.

Dokter Palimkar menjelaskan mata kedutan merupakan manifestasi fisik dari penumpukan stres dalam tubuh. Saat stres menumpuk, tubuh akan mengirim sinyal kecil berupa kejang otot, termasuk pada otot mata.

“Ini sebenarnya bisa menjadi indikasi awal bahwa tubuh bereaksi terhadap peningkatan level stres,” kata Priya Palimkar sebagaimana dilansir Hindustan Times, Senin (21/4/2026).

Menurut Priya Palimkar, saat seseorang mengalami stres, tubuh melepaskan hormon kortisol dan adrenalin. Pelepasan kedua hormon tersebut menyiapkan tubuh untuk reaksi melawan atau lari.

Proses tersebut tidak hanya meningkatkan detak jantung dan tekanan darah, tetapi juga membuat saraf menjadi sensitif. Saraf yang sensitif menyebabkan otot berkontraksi tanpa disadari, termasuk otot mata.

“Ketika seseorang mengalami stres, hormon kortisol dan adrenalin dikeluarkan oleh tubuh, membuatnya siap untuk reaksi melawan atau lari,” ujar Priya Palimkar.

“Proses ini tidak hanya meningkatkan detak jantung dan tekanan darah, tetapi juga membuat saraf sensitif, menyebabkan otot berkontraksi tanpa disadari, bahkan otot mata,” ia menambahkan.

Priya Palimkar menegaskan episode kedutan mata pada dasarnya tidak berbahaya. Namun, apabila kedutan terjadi secara teratur, hal tersebut tidak boleh diabaikan karena dapat mengindikasikan tingkat stres yang sudah tinggi.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, dokter Priya Palimkar menyarankan sejumlah upaya pengurangan stres. Dua langkah utama yang direkomendasikan adalah memperbaiki pola tidur dan mengurangi penggunaan perangkat elektronik.

“Jika tidak diperhatikan dan dibiarkan tanpa penanganan, hal itu dapat menjadi penyebab masalah jantung,” kata Priya Palimkar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *