Hasil Penelitian: Anak Muda Sekarang Makin Sulit Kaya dan Punya Rumah
Social Media
Communication
Bookmarking
Developer
Entertainment
Academic
Finance
Lifestyle
ph@geosiar.co.id
JAKARTA, GEOSIAR.CO.ID – Harapan setiap generasi untuk menikmati kehidupan yang lebih baik dibanding generasi sebelumnya kini semakin sulit terwujud.
Sebuah penelitian terbaru dari Institute for Fiscal Studies (IFS) mengungkap generasi muda menghadapi tantangan yang lebih besar, mulai dari sulit mendapatkan pekerjaan, pertumbuhan gaji yang mandek, hingga semakin berat memiliki rumah sendiri.
Penelitian tersebut membandingkan kondisi ekonomi berbagai kelompok generasi di Inggris saat memasuki usia sekitar 25 tahun.
Analisis dilakukan menggunakan data survei rumah tangga yang mencakup tingkat pekerjaan, pendapatan, kepemilikan rumah, hingga biaya tempat tinggal, dengan seluruh nilai telah disesuaikan terhadap inflasi menggunakan harga 2024–2025.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan generasi muda saat ini relatif tidak berbeda dengan generasi yang lahir 10 hingga 20 tahun sebelumnya. Namun, mereka tidak lagi menikmati peningkatan kesejahteraan yang sebelumnya dialami generasi terdahulu.
Salah satu temuan utama adalah semakin sulitnya anak muda memperoleh pekerjaan. Generasi yang lahir pada periode 1997–2001 memiliki tingkat bekerja sebesar 74 persen ketika berusia sekitar 25 tahun. Angka tersebut lebih rendah dibanding rata-rata 77 persen pada generasi kelahiran 1972–1996 di usia yang sama.
IFS menilai penurunan tersebut kemungkinan berkaitan dengan meningkatnya jumlah anak muda berusia 16–24 tahun yang tidak bekerja, tidak menempuh pendidikan, maupun tidak mengikuti pelatihan atau dikenal sebagai kelompok NEET (Not in Employment, Education, or Training) sejak akhir 2022.
Selain kesempatan kerja yang menurun, pertumbuhan upah juga mengalami stagnasi. Pendapatan median sebelum pajak bagi pekerja berusia 25 tahun meningkat dari 19.900 poundsterling per tahun pada generasi kelahiran 1957–1961 menjadi 28.500 poundsterling pada generasi 1977–1981.
Namun, setelah krisis keuangan global 2008, peningkatan tersebut praktis berhenti. Generasi kelahiran 1997–2001 hanya memperoleh pendapatan median sekitar 28.000 poundsterling per tahun, hampir sama dengan generasi yang lahir dua dekade sebelumnya.
IFS menyebut kondisi tersebut menunjukkan bahwa generasi muda saat ini bukan semakin miskin dibanding generasi sebelumnya, melainkan tidak lagi mengalami kemajuan ekonomi sebagaimana dialami orang tua mereka.
Tantangan lainnya datang dari sektor perumahan. Penelitian menunjukkan semakin banyak anak muda yang memilih atau terpaksa tetap tinggal bersama orang tua akibat tingginya biaya tempat tinggal.
Jika pada generasi kelahiran akhir 1950-an hingga pertengahan 1970-an hanya sekitar seperempat anak muda berusia 25 tahun yang masih tinggal bersama orang tua, angka itu meningkat menjadi 41,67 persen pada generasi kelahiran 1997–2001.
Pada saat yang sama, tingkat kepemilikan rumah mengalami penurunan tajam. Sebanyak 42,65 persen generasi kelahiran 1957–1961 telah memiliki rumah pada usia 25 tahun. Sementara pada generasi kelahiran 1997–2001, angkanya tinggal 14,59 persen.
Bagi mereka yang sudah hidup mandiri, biaya tempat tinggal juga semakin membebani. Biaya median perumahan meningkat dari sekitar 3.046 poundsterling per tahun pada generasi kelahiran 1957–1961 menjadi 8.765 poundsterling pada generasi 1997–2001.
Akibatnya, porsi pendapatan yang harus dialokasikan untuk tempat tinggal juga meningkat. Jika generasi terdahulu menghabiskan sekitar 17 persen pendapatannya untuk biaya perumahan, generasi terbaru harus mengalokasikan hampir 23 persen dari penghasilannya.
Menurut IFS, persoalan terbesar bukanlah kondisi ekonomi generasi muda yang memburuk secara drastis, melainkan terhentinya kemajuan antargenerasi.
Generasi sebelumnya dapat berharap memperoleh pekerjaan, pendapatan, dan kesempatan memiliki rumah yang lebih baik dibanding orang tua mereka, sedangkan generasi saat ini justru mengalami stagnasi.
Lembaga tersebut mengaitkan kondisi tersebut dengan melemahnya pertumbuhan produktivitas dan upah di Inggris sejak krisis keuangan global 2008, sehingga peluang peningkatan kesejahteraan bagi generasi muda menjadi semakin terbatas.
