Presiden menggunakan analogi pembangunan jembatan di sebuah desa untuk menggambarkan fenomena yang ia rasakan selama memimpin pemerintahan. Ketika sebagian besar warga desa sudah bersepakat bergotong royong membangun jembatan, kata Prabowo, selalu ada sekelompok pihak yang memilih tidak ikut serta namun gemar melayangkan kritik. “Boleh kritik, boleh. Hanya saya juga enggak ngerti kalau orang mau bangun jembatan, dia tidak mau ikut bangun jembatan, tapi dia kritik. Kayunya salah, jangan di situ. Pakunya salah, harusnya di sini. Salah aja, tapi enggak jadi-jadi itu jembatan,” jelas Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, dalam taklimat Rapat Kerja Pemerintah di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Fenomena itu, menurut Presiden, bukan hal baru dan bukan pula hanya terjadi di Indonesia. Prabowo mengaitkannya dengan sejarah panjang bangsa, menyebutkan bahwa sikap serupa sudah ada sejak masa penjajahan ketika sebagian pihak justru mempermudah kekuasaan asing. Pemerintah, tegasnya, tidak akan berhenti membangun hanya karena ada yang memilih berdiam dan mengkritik dari luar. “Iya, saya goblok, tapi rakyat desa minta jembatan, saya bangun jembatan untuk rakyat kita,” kata Prabowo.
Prabowo Peringatkan Bahaya Hoaks dan Echo Chamber di Media Sosial
Presiden Prabowo juga memperingatkan jajaran kabinetnya terhadap ancaman penyebaran hoaks dan fitnah melalui media sosial yang disebutnya sebagai senjata perusak negara di era modern. Ia menjelaskan perkembangan teknologi digital memungkinkan kelompok kecil menciptakan kegaduhan yang tampak masif melalui efek gema. “Dulu kirim pasukan, kirim bom, sekarang tidak perlu. Mungkin dengan permainan sosmed, dengan fitnah, hoaks,” kata Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, dalam taklimat Rapat Kerja Pemerintah di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Efek gema itu, menurutnya, mampu membuat suara segelintir orang terdengar seolah representasi jutaan. “Jadi, yang agak repot mungkin 100 orang, 200 orang bisa bikin heboh. Ini namanya echo chamber,” ujarnya. Meski mewaspadai fenomena itu, ia menegaskan kritik yang disampaikan secara bertanggung jawab tetap diterima sebagai koreksi yang membuatnya waspada. “Kalau kita difitnah, kalau kita dihujat, anggaplah itu sebagai peringatan supaya kita waspada,” ujar Prabowo Subianto dalam taklimatnya di hadapan anggota Kabinet Merah Putih, Rabu (8/4/2026).