Bahlil Lahadalia Sebut Harga BBM Nonsubsidi Akan Disesuaikan, Perhitungan Bersama Pertamina Belum Rampung

GEOSIAR.CO.ID 9 April 2026 Penulis : ph@geosiar.co.id

JAKARTA, GEOSIAR.CO.IDMenteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia dari Partai Golkar menyatakan pemerintah akan melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak nonsubsidi setelah proses perhitungan bersama Pertamina dan badan usaha swasta selesai, menyusul kebijakan menahan harga yang berlaku sejak 1 April 2026 di tengah lonjakan harga minyak dunia yang kini melampaui 100 dolar AS per barel. Jenis BBM yang akan disesuaikan mencakup RON 92, RON 95, RON 98, serta solar jenis Pertamina Dex. Pernyataan itu disampaikan Bahlil usai mengikuti Rapat Kerja Kabinet Merah Putih di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (8/4/2026) malam.

“Mengenai dengan BBM yang RON 92, 95, 98, termasuk dengan solar yang Pertamina Dex, itu nanti kita akan melakukan penyesuaian setelah perhitungan selesai. Sekarang kita masih melakukan exercise dan mudah-mudahan doakan agar betul harga ICP bisa turun, itu akan jauh lebih baik lagi,” ujar Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral dari Partai Golkar, di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (8/4/2026). Harga minyak dunia jenis Brent pada Januari 2026 rata-rata hanya 64 dolar AS per barel, namun kini telah melampaui 100 dolar AS akibat ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Harga Pertamax saat ini masih dipatok Rp12.300 per liter, Pertamax Green Rp12.900, dan Pertamax Turbo Rp13.100 per liter berdasarkan ketentuan Pertamina Patra Niaga per 1 Maret 2026.

Keputusan menahan harga BBM, baik subsidi maupun nonsubsidi, sejak awal April 2026 diambil setelah koordinasi antara Kementerian ESDM dan PT Pertamina sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, sebagaimana diumumkan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi pada 31 Maret lalu. Konsekuensinya, selisih antara harga jual dan harga keekonomian minyak yang terus melebar harus ditanggung sementara oleh Pertamina hingga ada keputusan pemerintah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan hal itu secara terbuka kepada publik sebagai bentuk transparansi atas kondisi keuangan perusahaan pelat merah tersebut.

Pasokan LPG Aman, Impor Minyak Mentah dari Timur Tengah Hanya 20–25 Persen

Bahlil memastikan pasokan LPG nasional tidak terpengaruh ketegangan di Selat Hormuz karena pengadaan sudah beralih ke negara-negara lain. “LPG tidak ada urusannya sama Selat Hormuz karena kita sudah ambil dari Australia, dari Amerika, dan beberapa negara lain,” kata Bahlil Lahadalia di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (8/4/2026). Stok LPG nasional disebut aman di atas kebutuhan 10 hari ke depan dan pasokan pada masa kritis awal April telah terlewati.

Dari sisi impor minyak mentah, ketergantungan Indonesia terhadap kawasan Timur Tengah hanya berkisar 20 hingga 25 persen dari total kebutuhan, dan sebagian besar sudah dialihkan ke sumber alternatif dari Angola, Nigeria, serta Amerika Serikat. Pemerintah juga tidak menutup kemungkinan diversifikasi sumber energi ke negara lain, termasuk Rusia, meski Bahlil belum memberikan kepastian soal itu. “Nanti kalau sudah terjadi, baru dengar sendiri. Saya bukan ahli yang bisa menerka-nerka itu,” kata Bahlil Lahadalia di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (8/4/2026).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *