Sarjana Sulit Cari Kerja, Puluhan Lamaran Tak Kunjung Berbuah Hasil
Social Media
Communication
Bookmarking
Developer
Entertainment
Academic
Finance
Lifestyle
ph@geosiar.co.id
BANDAR LAMPUNG, GEOSIAR.CO.ID – Gelar sarjana ternyata belum selalu menjadi jaminan mudah mendapatkan pekerjaan. Hal itu dirasakan Lisya, lulusan Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Radin Inten Lampung (UIN RIL), yang mengaku telah mengirim lebih dari 50 lamaran kerja dalam tiga tahun terakhir.
Meski aktif mencari peluang, Lisya hingga kini belum mendapatkan pekerjaan yang benar-benar sesuai dengan latar belakang pendidikan dan kompetensinya.
Ia mengaku hampir setiap hari memantau berbagai situs informasi lowongan kerja untuk menemukan peluang yang sesuai.
“Saya sudah mengirim lamaran lebih dari 50 kali dalam kurun waktu tiga tahun belakangan ini,” ujar Lisya.
Menurutnya, tantangan terbesar dalam mencari pekerjaan adalah terbatasnya lapangan kerja yang sesuai dengan bidang pendidikan, ditambah persaingan yang semakin ketat.
“Kesulitan dalam mencari kerja karena kurangnya lapangan pekerjaan. Saya bisa buka tutup situs informasi lowongan sampai lima kali sehari,” katanya.
Lisya juga mengaku pernah menemukan lowongan yang sesuai dengan kualifikasi dirinya, namun harus bersaing dengan banyak pelamar lain. Ia bahkan menduga adanya faktor koneksi dalam proses perekrutan.
“Sekalinya ada yang sesuai, kalah sama orang dalam,” ungkapnya.
Selain persaingan, persoalan lain yang dihadapinya adalah banyaknya lowongan pekerjaan yang tidak sesuai dengan bidang kuliah yang ditempuh.
Menurut Lisya, banyak pekerjaan yang tersedia justru menawarkan posisi di luar keahlian akademiknya, salah satunya pekerjaan sebagai tenaga pemasaran atau sales.
“Kuliah harapannya bisa kerja sesuai jurusan yang diminati, kenyataannya banyak lowongan jadi sales,” ujarnya.
Lisya sebenarnya pernah mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang dianggap sesuai. Namun, ia memilih tidak melanjutkan karena waktu kerja yang tidak cocok dengan kondisinya.
“Saya sudah pernah bekerja, gaji cocok, tetapi jam kerja kurang sesuai,” katanya.
Pengalaman Lisya tersebut sejalan dengan kondisi ketenagakerjaan di Provinsi Lampung. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung, tingkat pengangguran terbuka (TPT) lulusan diploma dan universitas pada Mei 2026 menjadi yang tertinggi dibandingkan jenjang pendidikan lainnya, yakni mencapai 7,92 persen.
Kepala BPS Provinsi Lampung Ahmadriswan Nasution mengatakan, lulusan diploma dan universitas memiliki angka pengangguran tertinggi berdasarkan tingkat pendidikan yang ditamatkan.
“Berdasarkan pendidikan tertinggi yang ditamatkan, TPT paling tinggi ada pada tamatan Diploma dan Universitas yang mencapai 7,92 persen,” ujar Ahmadriswan.
Secara keseluruhan, tingkat pengangguran terbuka Lampung pada Mei 2026 berada di angka 3,97 persen atau meningkat tipis dibandingkan Februari 2026.
Jumlah angkatan kerja Lampung tercatat mencapai 5,15 juta orang, dengan jumlah penduduk bekerja sebanyak 4,94 juta orang. Sementara itu, sekitar 204 ribu orang masih berstatus sebagai pengangguran.
BPS juga mencatat pasar kerja Lampung masih didominasi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang menyerap 44,04 persen tenaga kerja. Sektor perdagangan menjadi penyerap tenaga kerja terbesar kedua dengan 16,70 persen.
Di sisi lain, mayoritas pekerja di Lampung masih berada pada sektor informal. BPS mencatat sebanyak 69,17 persen penduduk bekerja berada di sektor informal, sementara pekerja formal sekitar 30,83 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan tantangan besar bagi lulusan perguruan tinggi dalam memasuki dunia kerja, terutama untuk memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan bidang pendidikan dan harapan karier mereka.
