Menko AHY Jadikan Ruas Banda Aceh-Besitang Prioritas Awal Pengembangan Rel Kereta di Luar Jawa
GEOSIAR.CO.ID 24 April 2026 Penulis : ph@geosiar.co.id
JAKARTA, GEOSIAR.CO.ID -Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menjadikan ruas Banda Aceh-Besitang sebagai salah satu proyek prioritas awal pengembangan jaringan kereta api di luar Pulau Jawa.
Ruas yang menghubungkan Provinsi Aceh dan Sumatera Utara tersebut saat ini dalam tahap perhitungan lebih lanjut.
Proyek tersebut menjadi bagian dari target pemerintah membangun dan mereaktivasi 14.000 kilometer jalur kereta hingga 2045 dengan kebutuhan investasi Rp1.100 triliun hingga Rp1.200 triliun.
Pernyataan tersebut disampaikan AHY usai rapat koordinasi pengembangan jaringan kereta api nasional di Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (22/4/2026).
Rapat koordinasi tersebut dihadiri Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional sekaligus Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Arif Satria, Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus, Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional Ossy Dermawan, Wakil Kepala Badan Pengelola BUMN Amminudin Ma’ruf, serta Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia Bobby Rasyidin.
“Misalnya untuk ruas dari Aceh ke Sumatera Utara, khususnya dari Banda Aceh ke Besitang, itu juga sedang dihitung lebih lanjut lagi,” kata Agus Harimurti Yudhoyono di Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (22/4/2026).
Besitang merupakan kecamatan di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, yang secara historis terhubung dengan jaringan rel menuju Aceh.
Ketua Umum Partai Demokrat tersebut menegaskan pembangunan jaringan kereta api memerlukan tahapan bertahap dengan program prioritas awal sebagai langkah pertama.
“Tentu tidak bisa seketika, perlu proses jangka menengah, jangka panjang, sehingga harus ada quick wins-nya dan harus ada anggaran yang memadai,” ujar AHY di Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (22/4/2026).
Pemerintah juga berencana membentuk komite lintas kementerian untuk menyempurnakan Rencana Induk Perkeretaapian Nasional atau Ripnas agar pengembangan lebih terarah dan terintegrasi.
Kondisi jaringan kereta api di luar Pulau Jawa saat ini masih jauh tertinggal dibandingkan Pulau Jawa.
Sumatera sudah memiliki sekitar 1.871 kilometer jalur kereta, namun belum sepenuhnya terhubung dan masih membutuhkan tambahan sekitar 7.837 kilometer.
Kalimantan belum memiliki jaringan kereta sama sekali dan membutuhkan pembangunan baru sekitar 2.700 kilometer.
Sulawesi hanya memiliki jalur eksisting sekitar 109 kilometer dan memerlukan tambahan sekitar 3.284 kilometer.
Pulau Jawa memiliki sekitar 10.000 kilometer dari total 12.000 kilometer jaringan rel nasional, dengan rel aktif hanya sekitar 7.000 kilometer.
AHY menegaskan pembiayaan proyek rel kereta luar Jawa tidak dapat sepenuhnya mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Pemerintah akan mendorong skema pembiayaan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), investasi swasta, hingga investasi luar negeri.
“Tentunya bukan hanya dibebankan pada APBN, tapi juga APBD karena pemerintah daerah harus terlibat langsung, ada juga skema kerja sama antara pemerintah dan swasta seperti KPBU, termasuk investasi dari luar, kita harapkan ada sumber-sumber keuangan kreatif lainnya,” ujar AHY di Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (22/4/2026).
Kerja sama dengan negara-negara yang memiliki pengalaman dalam pengembangan transportasi perkeretaapian juga dibuka, baik untuk angkutan penumpang perkotaan maupun logistik antardaerah.
Lembaga pengelola investasi Danantara turut disebut sebagai pihak yang berpotensi terlibat dalam pembiayaan proyek.
AHY menyoroti sektor perkeretaapian Indonesia selama ini mengalami kekurangan investasi dibandingkan sektor jalan.
Anggaran pembangunan dan perbaikan jalan nasional pada 2026 mencapai sekitar Rp46 triliun, sementara rel kereta hanya sekitar Rp5 triliun.
Dengan asumsi pengembangan 14.000 kilometer selama 20 tahun, kebutuhan anggaran per tahun berkisar Rp60 triliun hingga Rp65 triliun.
Rasio panjang rel kereta api di Indonesia saat ini sekitar 0,02 kilometer per 1.000 penduduk, jauh tertinggal dibandingkan Jepang yang mencapai 0,16 kilometer per 1.000 penduduk.
AHY menegaskan pembangunan jaringan kereta api harus terintegrasi dengan tata ruang dan pusat pertumbuhan ekonomi untuk mendukung mobilitas barang dan manusia secara optimal.
www.geosiar.co.id

