Jatah Pertalite Indonesia 50 Liter Sehari, Malaysia Hanya 6,5 Liter

GEOSIAR.CO.ID 2 April 2026 Penulis : ph@gseosiar.co.id

JAKARTA , GEOSIAR.CO.ID -Indonesia dan Malaysia sama-sama menerapkan pembatasan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di tengah lonjakan harga minyak mentah global. Namun jatah harian yang diberikan kepada pengguna kendaraan pribadi di dua negara ini ternyata berbeda sangat jauh.

Pemerintah Indonesia menetapkan batas pembelian Pertalite maksimal 50 liter per hari per kendaraan roda empat pribadi, dengan transaksi wajib menggunakan kode batang MyPertamina. “Untuk memastikan distribusi BBM, pemerintah akan melakukan pengaturan pembelian dengan penggunaan barcode MyPertamina dengan batas wajar 50 liter per kendaraan,” ujar Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Perekonomian, dalam konferensi pers daring pada 31/3. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia memastikan pembatasan ini tidak berlaku untuk truk angkutan dan bus.

Di Malaysia, pembatasan BBM subsidi jenis bensin RON 95 justru jauh lebih ketat. Kuota yang sebelumnya 300 liter per bulan per pengguna dipangkas menjadi 200 liter per bulan, atau setara rata-rata hanya 6,5 liter per hari. Angka ini hampir delapan kali lebih kecil dibandingkan jatah harian Pertalite di Indonesia.

Habis Kuota di Malaysia Tetap Bisa Beli, tapi Kena Harga Pasar

Pemerintah Malaysia tidak memutus akses konsumen yang sudah melampaui kuota 200 liter per bulan. Pembelian di atas kuota masih diperbolehkan, namun dikenakan harga nonsubsidi sebesar 3,87 ringgit atau sekitar Rp16.267 per liter, jauh di atas harga subsidi 1,99 ringgit atau sekitar Rp8.000 per liter.

Kepala Ekonom CGS International Securities Malaysia, Nazmi Idrus, menilai mekanisme pembatasan kuota lebih baik daripada kenaikan harga secara luas. “Media melaporkan bahwa 90% konsumen menggunakan kurang dari 200 liter bahan bakar sehingga mayoritas masih terlindungi,” ujar Nazmi Idrus, Kepala Ekonom CGS International Securities Malaysia. Pengemudi transportasi daring yang memenuhi syarat bahkan mendapat jatah lebih besar, yakni 800 liter per bulan, berdasarkan kebijakan yang disampaikan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim.

Di Indonesia, efektivitas pengawasan pembatasan melalui aplikasi MyPertamina masih menjadi pertanyaan di lapangan, terutama bagi pengguna yang memiliki lebih dari satu kendaraan atau yang mencoba mengisi di berbagai stasiun pengisian bahan bakar umum dalam satu hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *