Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara Ingatkan Prajurit TNI di Lebanon: Waspada Setiap Saat, Patuhi Protokol PBB

GEOSIAR.CO.ID 9 April 2026 Penulis : ph@geosiar.co.id

JAKARTA, GEOSIAR.CO.IDMenteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, yang merupakan veteran pasukan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon dalam operasi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), menegaskan pentingnya kepemimpinan yang tangguh serta kewaspadaan tinggi bagi prajurit TNI yang tengah bertugas di sana. Pernyataan itu disampaikan menyusul gugurnya tiga prajurit TNI dalam pelaksanaan misi perdamaian di Lebanon serta meluasnya dinamika konflik di kawasan tersebut. “Izinkan saya untuk menyampaikan duka cita yang mendalam serta bela sungkawa kepada tiga prajurit TNI yang gugur. Ancaman utamanya adalah ketidakpastian, sehingga dibutuhkan kesiapsiagaan dan kemampuan pengambilan keputusan yang tepat oleh setiap prajurit di lapangan,” kata Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, Menteri Transmigrasi, dalam keterangan tertulisnya yang diterima Senin (6/4/2026).

Iftitah berbicara dari pengalaman langsung sebagai prajurit UNIFIL pada 2006 hingga 2007, ketika situasi keamanan di Lebanon sangat bergejolak pascaperang 34 hari antara Israel dan Hizbullah. Ia menyebut tugas pasukan perdamaian kerap disepelekan karena namanya tidak mengandung kata “tempur,” padahal risikonya nyata. “Tugas dari pasukan perdamaian sebetulnya adalah menjaga perdamaian itu sendiri. Namun, di balik kesederhanaan tersebut, pelaksanaannya di lapangan tidak semudah itu,” jelasnya. Iftitah juga mengingatkan bahwa mandat UNIFIL mengacu pada Piagam PBB khususnya Bab VI dan Bab VII, dan situasi di lapangan kerap berada di zona abu-abu. “Kita sebagai veteran perdamaian sering mengutip Resolusi 1701 sebagai Chapter 6,5. Hal ini memberikan sinyal bahwa situasi UNIFIL sangat rentan dan laten terhadap potensi konflik besar,” katanya.

Senjata untuk Membela Diri, Bukan Menyerang

Iftitah menekankan perbedaan mendasar antara operasi perdamaian dan operasi tempur yang menurutnya harus dipahami setiap prajurit sebelum tiba di lapangan. “Di sana kita pergi bukan untuk berperang, tetapi untuk menjaga perdamaian. Senjata yang kita miliki bukan untuk menembak musuh, melainkan untuk membela diri. Kami berpesan agar betul-betul menjaga kewaspadaan, jangan sampai lengah, dan ikuti aturan protokol yang telah ditetapkan oleh PBB,” pesan Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, Menteri Transmigrasi, Minggu (5/4/2026). Ia juga menegaskan pentingnya disiplin dalam memahami aturan pelibatan atau rules of engagement yang terus berkembang mengikuti kondisi lapangan yang dinamis.

Konteks historis pernyataan Iftitah diperkuat oleh keterangan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, yang mengungkapkan bahwa Iftitah tergabung dalam kontingen Garuda XXIII/A, kontingen UNIFIL pertama Indonesia yang dikirim pada November 2006, bersama Agus Harimurti Yudhoyono berpangkat Lettu dan Ossy Dermawan berpangkat Lettu, sementara Iftitah ketika itu berpangkat Kapten. Ketiganya kini menjadi anggota Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto: AHY sebagai Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Iftitah sebagai Menteri Transmigrasi, dan Ossy sebagai Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang. Hingga 2026, Indonesia telah mengirim kontingen ke Lebanon sebanyak 19 kali dengan masa penugasan rata-rata satu tahun, menjadikannya salah satu misi PBB terlama yang diemban pasukan Indonesia sejak bergabung dalam operasi perdamaian internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *