Miris! Siswa di Medan Bertaruh Nyawa Lewati Pipa di Atas Sungai Deli demi ke Sekolah, Wali Kota Rico Waas Mengaku Dulu Juga Lewat Situ
GEOSIAR.CO.ID 17 April 2026 Penulis : ph@geosiar.co.id
MEDAN, GEOSIAR.CO.ID -Bukan di pedalaman terpencil. Ini terjadi di jantung Kota Medan. Sejumlah pelajar SMPN 34 Kampung Baru setiap hari bertaruh nyawa berjalan di atas pipa besar milik Perumda Tirtanadi yang melintang di atas Sungai Deli, dengan ketinggian 7 hingga 10 meter dari permukaan air sungai yang deras.
Video aksi mereka viral di media sosial dan langsung menarik perhatian Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas. Respons Rico Waas justru mengejutkan. Ia blak-blakan mengaku pernah mengalami hal serupa saat masa sekolah.
“Soal pelajar itu, pasti jadi perhatian saya ke depan. Itu di belakang sekolah kami dulu. Sudah lama jadi akses jalan pintas. Dulu saya lewat situ juga pas masa sekolah, karena memang efisien jaraknya menjadi lebih dekat,” kata Rico Waas usai melantik 76 pejabat di Balai Kota Medan, Kamis (16/4/2026), sebagaimana dilaporkan Tribun Medan.
Rico Waas menyebut langkah ke depan adalah berkoordinasi dengan PT KAI karena pipa tersebut berada di bekas jalur rel kereta api milik mereka. Pemkot Medan akan mencari solusi, apakah bisa dibangun jembatan atau dicari akses alternatif yang lebih aman.
“Segera ini Pemko Medan akan koordinasi planing dengan KAI, karena kan ini lahan mereka, apakah bisa dibangun jembatan. Atau kita cari akses alternatif yang lebih perhatikan jaraknya ya. Pasti atensi ya,” ujar Rico Waas, sebagaimana dilaporkan Tribun Medan.
Pipa itu menghubungkan tiga kecamatan sekaligus, yaitu Medan Maimun, Medan Polonia, dan Medan Johor. Kawasan tersebut dulunya memiliki jembatan penyeberangan yang merupakan bekas lintasan rel kereta api sejak zaman Belanda. Setelah tidak lagi dimanfaatkan untuk kereta api, warga memanfaatkannya sebagai jembatan darurat.
Kepala Lingkungan 21, Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Medan Maimun, Lestari, menjelaskan bahwa jembatan tersebut roboh pada 2024 akibat tertimpa longsor.
“Sebelumnya di sini ada jembatan cuma roboh tahun 2024. Jadi biasanya anak SMP yang lewat sini. Justru anak SMA gak berani,” ucap Lestari, sebagaimana dilaporkan Kompas.com, Rabu (15/4/2026).
Sejak jembatan roboh, siswa yang tinggal di Kecamatan Polonia nekat melintas di atas pipa PDAM menuju SMPN 34 di Kelurahan Kampung Baru. Jika memutar lewat jalan resmi, jaraknya menjadi sangat jauh dan membutuhkan ongkos transportasi yang memberatkan.
Mita, siswi kelas 7 SMPN 34, mengaku sudah terbiasa dan tidak takut lagi melintas di atas pipa tersebut.
“Lebih dekat dari sini. Kalau mutar, sekitar 6 menit naik motor, jalan kejauhan. Naik angkot, turunnya di depan pasar jadi harus nyebrang lagi,” kata Mita, sebagaimana dilaporkan Kompas.com.
Rabiatul Hadawiyah, warga sekitar, menuturkan bahwa insiden siswa terjatuh ke sungai bukan hal baru. Bahkan ada yang hampir hanyut.
“Sudah sering anak-anak sekolah itu jatuh ke sungai, Pak. Bahkan pernah ada yang hampir hanyut,” ujar Rabiatul, sebagaimana dilaporkan Waspada Aceh, Jumat (10/4/2026).
Rabiatul mengenang, mantan Wali Kota Medan Bobby Nasution pernah datang ke lokasi dan berjanji membangun jembatan gantung yang layak. Namun janji tersebut hingga kini belum terealisasi.
Pihak sekolah sudah berulang kali mengingatkan agar siswa tidak melintas lewat pipa tersebut. Sekretaris Dinas Pendidikan Pemko Medan Andi Yudhistira menyebut imbauan disampaikan setiap upacara.
“Akses utamakan bukan dari situ, kita selalu arahkan untuk ke sekolah melalui akses jalan utama oleh pihak sekolah. Jadi setiap upacara terus diingatkan Kepsek ke murid-murid itu supaya gak lewati akses pipa alternatif itu,” kata Andi Yudhistira, sebagaimana dilaporkan Tribun Medan.
Garis pembatas pun sudah dipasang, tetapi para siswa tetap melewatinya. Bagi mereka, mempertaruhkan nyawa di atas pipa lebih masuk akal daripada mengeluarkan ongkos transportasi yang tidak mereka miliki.
www.geosiar.co.id

