Target Rampung 2029, Ini Rute Jalur Alternatif Baru Medan-Berastagi Bebas Macet Disiapkan Pemprov Sumut
Social Media
Communication
Bookmarking
Developer
Entertainment
Academic
Finance
Lifestyle
ph@geosiar.co.id
KARO, GEOSIAR.CO.ID -Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) menyiapkan jalur alternatif Medan-Berastagi sebagai salah satu langkah untuk mengurai kemacetan sekaligus meningkatkan keselamatan dan kelancaran lalu lintas menuju kawasan wisata Kabupaten Karo.
Jalur alternatif tersebut direncanakan difokuskan bagi kendaraan wisata, terutama kendaraan roda enam ke bawah. Sementara itu, kendaraan logistik tetap diarahkan menggunakan jalur utama Jalan Jamin Ginting.
Pembangunan dan penataan sejumlah ruas jalan direncanakan mulai dikerjakan pada 2027 dan ditargetkan selesai secara bertahap hingga 2028-2029. Rencana ini menjadi salah satu langkah yang ditempuh Pemprov Sumut sembari tetap mendorong pembangunan jalan tol Medan-Berastagi agar masuk dalam perencanaan nasional.
Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution mengatakan, pembangunan jalan tol membutuhkan proses dan waktu yang panjang. Karena itu, pemerintah provinsi menyiapkan langkah alternatif dengan melakukan intervensi terhadap sejumlah ruas jalan yang sudah ada di wilayah Deli Serdang dan Karo.
Jalur tersebut akan menghubungkan sejumlah kawasan melalui rute alternatif yang diharapkan dapat mengurangi kepadatan pada jalur utama, khususnya ketika terjadi peningkatan volume kendaraan pada akhir pekan maupun masa libur nasional.
Jalur Medan-Namorambe-Sembahe
Salah satu bagian utama dari rencana jalur alternatif tersebut adalah pelebaran ruas Medan-Namorambe-Sembahe.
Dari kawasan Hairos atau Simpang Poci di Jalan Jamin Ginting, kendaraan wisata nantinya diarahkan menuju jalur alternatif melalui jaringan jalan kabupaten. Ruas jalan yang saat ini memiliki lebar sekitar empat meter direncanakan diperlebar menjadi sekitar enam hingga delapan meter.
Ruas tersebut memiliki panjang sekitar 18 kilometer dan direncanakan mengalami perubahan status menjadi Jalan Provinsi. Pelebaran diharapkan dapat meningkatkan kapasitas jalan sekaligus membuat perjalanan kendaraan wisata menuju kawasan Berastagi menjadi lebih lancar.
Overpass dan Sudetan di Sembahe
Pemprov Sumut juga merencanakan pembangunan infrastruktur berupa overpass dan sudetan di kawasan Sembahe.
Rencana tersebut mencakup pembangunan jalan baru sepanjang sekitar 330 meter serta overpass sepanjang 82 meter yang akan melintasi jalan nasional menuju kawasan Tandu Benua.
Pembangunan ini ditujukan untuk memotong jalur yang memiliki tanjakan dan hambatan perjalanan, sehingga arus kendaraan dapat bergerak lebih lancar.
Keberadaan infrastruktur tersebut diharapkan dapat menjadi bagian penting dari jalur alternatif yang nantinya digunakan kendaraan wisata dari arah Medan menuju kawasan Berastagi.
Rest Area di Suka Nalu
Selain pembangunan jalan, Pemprov Sumut juga menyiapkan rencana pembangunan rest area berskala besar di kawasan Suka Nalu.
Rest area tersebut direncanakan berada pada jalur sepanjang sekitar 14 kilometer menuju SMK Negeri Murni. Konsep yang disiapkan adalah kawasan terbuka yang dapat menjadi tempat persinggahan wisatawan selama perjalanan.
Pembangunan fasilitas pendukung seperti rest area dinilai penting karena jalur alternatif tidak hanya diarahkan untuk mengatasi persoalan kemacetan, tetapi juga diharapkan mampu mendukung sektor pariwisata dan perekonomian masyarakat di sepanjang jalur.
Trase Baru Sibiru-biru
Rencana lainnya adalah pembangunan trase baru sepanjang sekitar 3,8 kilometer dari kawasan Sibiru-biru yang akan menembus kawasan Pertamina atau Simpang Ketaren.
Jika seluruh rencana tersebut terealisasi, total panjang intervensi jalan penunjang dari Medan menuju kawasan tersebut diperkirakan mencapai sekitar 28 kilometer.
Jaringan jalan ini diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif pergerakan kendaraan wisata menuju Berastagi sehingga tidak seluruh kendaraan harus bertumpu pada Jalan Jamin Ginting.
Bukan Pengganti Jalur Logistik
Pemprov Sumut menegaskan bahwa jalur alternatif tersebut diprioritaskan untuk kendaraan wisata. Sementara kendaraan logistik tetap diarahkan menggunakan jalur utama Jalan Jamin Ginting.
Pembagian tersebut diharapkan dapat membuat arus kendaraan lebih teratur. Kendaraan wisata dapat menggunakan jalur alternatif, sedangkan kendaraan yang membawa barang dan kebutuhan logistik tetap melewati jalur utama.
Dengan pola tersebut, pemerintah berharap kepadatan lalu lintas di jalur utama dapat dikurangi, khususnya pada waktu-waktu tertentu ketika jumlah wisatawan menuju kawasan Berastagi dan sekitarnya meningkat.
Kawasan Wisata Juga Akan Ditata
Selain pembangunan jalan, Pemprov Sumut juga berencana melakukan pembenahan kawasan wisata di Berastagi. Beberapa kawasan yang menjadi perhatian antara lain Taman Hutan Raya (Tahura) dan Tugu Perjuangan Berastagi.
Pemerintah tidak memprioritaskan pembangunan fasilitas komersial berskala besar seperti mal maupun hotel. Sebaliknya, pembenahan akan diarahkan pada infrastruktur dasar seperti penerangan jalan, drainase, jalur pedestrian dan ruang publik.
Penataan kawasan tersebut diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat lokal. Aktivitas wisata yang semakin baik diharapkan ikut membuka peluang usaha bagi masyarakat di sekitar kawasan.
Rencana tersebut juga telah diselaraskan dengan dokumen RPJMD Pemprov Sumut, khususnya dalam pengembangan kawasan wisata pegunungan yang mencakup Karo, Dairi dan Pakpak Bharat.
Ditargetkan Selesai 2028-2029
Gubernur Sumut Bobby Nasution menyebut intervensi fisik terhadap jalur alternatif tersebut ditargetkan mulai berjalan pada 2027. Pengerjaan kemudian diharapkan dapat diselesaikan secara bertahap hingga 2028-2029.
Pemerintah juga tetap mendorong rencana pembangunan jalan tol Medan-Berastagi agar masuk dalam blueprint perencanaan nasional melalui Bappenas.
Dengan adanya jalur alternatif, pemerintah berharap persoalan kemacetan yang selama ini terjadi di jalur Medan-Berastagi dapat dikurangi. Di sisi lain, akses menuju kawasan wisata Karo juga diharapkan semakin mudah, aman dan nyaman bagi masyarakat maupun wisatawan.
Rencana pembangunan tersebut mendapat respons positif dari Ikatan Cendekiawan Karo (ICK). Kalangan akademisi menilai keberadaan jalur alternatif berpotensi membantu mengatasi sejumlah titik kemacetan yang selama ini menjadi hambatan perjalanan masyarakat dari Karo menuju Medan.
Pemprov Sumut selanjutnya akan melakukan perancangan teknis serta penyusunan anggaran secara lebih komprehensif. Pengerjaan fisik direncanakan dilakukan secara bertahap mulai tahun anggaran 2027.
Jika terealisasi sesuai rencana, jalur alternatif Medan-Berastagi tidak hanya diharapkan menjadi solusi kemacetan, tetapi juga menjadi bagian dari pengembangan kawasan wisata dan perekonomian masyarakat di wilayah pegunungan Sumatera Utara.
