Ngeri! Lubang Api Bawah Tanah Merah Membara Saat Karhutla di Kalimantan
Social Media
Communication
Bookmarking
Developer
Entertainment
Academic
Finance
Lifestyle
ph@geosiar.co.id
KALIMANTAN,GEOSIAR.CO.ID -Fenomena lubang api bawah tanah yang memancarkan bara merah menyala di lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan menjadi perhatian publik. Api yang terlihat membara di dalam rongga tanah tersebut menunjukkan bahaya kebakaran tersembunyi, terutama di kawasan lahan gambut yang terbakar.
Dalam rekaman yang beredar di media sosial, tampak sebuah lubang menganga dengan pijaran api berwarna merah di tengah gelapnya malam. Sejumlah petugas terlihat berupaya melakukan pemadaman di sekitar lokasi untuk mencegah api terus menjalar.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjelaskan bahwa fenomena tersebut merupakan ground fire atau kebakaran bawah permukaan. Api dapat terus membakar lapisan organik di dalam tanah meskipun permukaan lahan terlihat sudah padam.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Suar Pelita Panjaitan, menjelaskan bahwa lahan gambut memiliki lapisan material organik yang tebal. Ketika material tersebut terbakar, bara api dapat merambat di bawah permukaan tanah dan sulit diketahui secara langsung.
Proses pembakaran yang berlangsung di bawah tanah dapat menghabiskan material organik dan membuat lapisan tanah di atasnya kehilangan penopang. Akibatnya, permukaan tanah melesak dan membentuk rongga atau lubang yang mengeluarkan asap serta pijaran api.
Kondisi ini membuat karhutla di lahan gambut menjadi lebih sulit ditangani. Api yang tidak terlihat dari permukaan berpotensi tetap menyala dan merambat ke area lain, bahkan ketika titik api di permukaan telah berhasil dipadamkan.
BNPB menyebut penanganan kebakaran bawah permukaan perlu dilakukan melalui pembasahan menyeluruh hingga ke lapisan gambut yang terbakar. Salah satu metode yang digunakan ialah penyuntikan air menggunakan pipa bertekanan tinggi agar air dapat mencapai sumber bara di dalam tanah.
Selain itu, pembuatan sumur bor dan penutupan sekat kanal juga dioptimalkan untuk menjaga tinggi muka air tanah agar lahan gambut tetap basah. Upaya tersebut penting untuk mengurangi risiko api kembali menyala dan meluas.
Masyarakat juga diimbau tidak mendekati lokasi bekas kebakaran yang masih mengeluarkan asap. Struktur tanah yang telah terbakar dapat menjadi rapuh dan berongga sehingga berisiko ambles, bahkan membuat orang terperosok ke dalam rongga bara panas.
Fenomena lubang api bawah tanah ini menjadi pengingat bahwa bahaya karhutla tidak selalu terlihat dari permukaan. Penanganan menyeluruh hingga ke lapisan tanah menjadi bagian penting dalam upaya mencegah kebakaran meluas dan mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan serta masyarakat.
